Semua tamu telah hadir. Kami memang tak mengundang banyak tamu. Hanya beberapa kerabat dekat dan tetangga sekitar. Sebagaimana dalam Islam, sebuah acara pernikahan haruslah ada saksi dan disunahkan menggelar walimah meski hanya kecil-kecilan. Untuk itulah kami tetap mengundang kerabat dekat dan tetangga sekitar, meski jumlahnya tak lebih dari tiga puluh orang. Itu sudah termasuk keluarga dari mempelai laki-laki.
Acara akad nikah akan segera dimulai. Calon pengantin telah duduk di tempatnya. Begitu juga dengan saksi dan penghulu. Aku memandang adikku, Nindi. Dirinya tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna putih. Sejenak pandanganku beralih ke perutnya. Seketika dadaku terasa sesak. Dalam perut adikku, sudah ada janin yang mulai tumbuh. Usia janin itu hampir dua bulan.
Pandanganku semakin nanar ketika mataku melihat ayah dari janin tersebut. Tentu saja itu adalah sang mempelai laki-laki yang duduk di sebelah pamanku sebagai wali nikah. Dulu, tujuh tahun yang lalu hal seperti ini telah terjadi. Laki-laki itu juga duduk di samping paman. Namun, di samping satunya lagi, bukan adikku yang duduk di sana. Aku yang berada di posisi itu. Tujuh tahun yang lalu, akulah yang menikah dengan Mas Rangga, orang yang kini akan menikahi adikku.
Lamat-lamat, ingatanku pun terlontar pada kenangan tujuh tahun silam. Beberapa bulan setelah bapak meninggal, Mas Rangga melamarku. Dia adalah putra dari kenalan paman. Katanya dia adalah pemuda yang baik. Aku pun menurut untuk menikah denganya. Beberapa kali pertemuan kami sebelum menikah, dia selalu bersikap sopan. Selain itu, dia juga terlihat sebagai pemuda yang sabar dan penyayang. Mas Rangga juga menunjukkan kepribadian yang dewasa. Usianya lima tahun di atasku.
Awal pernikahanku berjalan dengan mulus. Perlahan kami saling jatuh cinta. Hari demi hari yang kami lalui bersama terasa indah. Mas Rangga juga terlihat sangat menyayangi adikku. Aku merasa tenang dengan hal itu. Setelah duka karena kehilangan sosok ayah, kami menemukan laki-laki yang bisa menjaga kami. Apalagi setelah dua tahun penantian pasca pernikahan kami. Aku melahirkan seorang putra. Rio Pratama, begitu nama yang kami sematkan untuk putra kami.
Usai memiliki anak, Mas Rangga juga semakin sayang padaku. Dia bekerja keras demi memenuhi kebutuhan kami. Termasuk untuk mencukupi biaya sekolah Nindi tentunya. Setelah menikah, kami memang membuka sebuah warung makan. Tak begitu besar memang, tapi cukup ramai. Hasilnya bisa untuk membiayai kebutuhan keluarga dan sedikit menabung.
Aku dan Mas Rangga mengelola sendiri warung makan tersebut. Namun sejak aku hamil, Mas Rangga melarangku bekerja. Kami pun akhirnya mencari orang untuk membantu di warung makan. Kalau pun aku ke sana, paling hanya duduk di belakang meja kasir. Mungkin kata orang-orang memang benar. Tiap anak yang lahir itu membawa rijekinya sendiri. Buktinya, setelah kelahiran Rio, warung makan kami semakin ramai. Kami juga menambah dua orang pekerja dan menyewa satu ruko lagi di samping warung yang kebetulan habis kontrak. Pengontrak lama tidak memperpanjangnya lagi.
Tahun silih berganti. Putra kami tumbuh dengan baik. Nindi juga telah lulus SMA. Namun dia belum mau melanjutkan kuliah. Dia juga tidak ingin bekerja di warung makan milikku dan Mas Rangga. Nindi memilih mengambil kursus. Biar bisa cepat kerja katanya. Kursus jahit, itu yang dipilihnya. Nindi memang tidak hobi dengan dunia memasak dari dulu. Dia lebih suka menggambar sejak kecil. Sangat berbeda denganku yang suka berkutat di dapur dan membuat aneka makanan.
Aku pun meminta Mas Rangga mencarikan Nindi tempat kursus. Mas Rangga tidak menolak. Diantarnya adikku untuk mendaftar. Sejak saat itu, suami dan adikku memang terlihat lebih dekat. Aku tak pernah curiga dengan kedekatan mereka. Setahuku, Mas Rangga menyayangi Nindi layaknya adik sendiri. Wajar jika mereka sering bercanda dan terlihat akrab.
Namun ternyata kepercayaanku pada mereka hancur luluh. Tak pernah terlintas dalam benakku jika adik dan suamiku menjalin hubungan. Mereka berselingkuh. Aku baru tahu setelah hubungan mereka berjalan hampir dua tahun. Entah bagaimana mereka melakukannya. Sebulan yang lalu, aku tahu bahwa Nindi telah mengandung anak dari Mas Rangga.
“Mbak Wulan, maafkan aku,” rengek Nindi sambil bersimpuh di kakiku. Tangis adikku tak kalah menganak sungai dari tangisku.
Aku tak menjawab permintaan maaf dari Nindi. Mataku justru nyalang tertuju pada Mas Rangga. Bagimana mungkin laki-laki yang tujuh tahun bersamaku, terlihat sangat mencintaiku, ternyata tega memakan adik kandungku? Apa salah dan dosaku hingga petaka ini terjadi? Dadaku rasanya ingin meledak. Ada kemarahan yang tak dapat kugambarkan di dalamnya.
“Wulan, aku khilaf. Maafkan aku ….”
Mas Rangga mencoba meraih tangganku. Namun aku menepisnya. Tiba-tiba tanggan Mas Rangga terlihat begitu kotor di mataku.
“Tinggalkan aku sendiri!” ucapku menahan amarah.
“Wulan ….”
“Kak Wulan ….”
Mas Rangga dan Nindi memanggilku hampir bersamaan. Sepertinya mereka ingin membujukku. Namun aku yang terbakar amarah tidak ingin mendengar perkataan mereka.
“Baiklah, kalu kalian tidak mau pergi, aku yang pergi!”
Aku menyeret langkahku. Berusaha meninggalkan Mas Rangga dan Nindi. Tentu saja mereka berusaha mencegahku. Akan tetapi aku tidak peduli. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku berlari meningglakan mereka. Aku pergi menuju rumah Budhe Lastri.
Mas Rangga mengejarku hingga ke rumah Budhe Lastri. Namun aku menutup pintu rumahnya. Tak membiarkan Mas Rangga masuk.
“Wulan, buka pintunya! Biarkan aku masuk, kita harus bicara!” teriak Mas Rangga sambil menggedor pintu.
“Pergi kau dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu!” sungutku dengan suara parau karena bercampur tangis.
“Wulan … Wulan!” suara Mas Rangga masih terdengar dari balik pintu.
“Biar Budhe yang menemui Rangga, Nduk. Kau masuklah dulu,” ucap Budhe Lastri.
“Aku tidak mau bertemu dengannya, Budhe …” jelasku.
“Budhe mengerti. Masuklah dulu, percayalah sama Budhe!” Budhe Lastri meyakinkanku.
Akhirnya aku pun menurut. Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju kamar Budhe Lastri. Laili yang dari tadi memperhatikanku di belakang Budhe Lastri pun mengikutiku masuk. Samar-samar aku masih mendengar suara Mas Rangga yang bicara dengan Budhe Lastri. Suamiku itu bersikeras ingin bertemu denganku. Namun Budhe Lastri mencegahnya.
“Nak Rangga pulang dulu. Untuk sementara, biar Wulan di sini. Biar dia tenang. Budhe akan bicara dengannya.”
“Tapi, Budhe ….”
“Lihatlah keadaan Rio dan Nindi dulu di rumah. Setelah Nak Wulan tenang, dia pasti mau bertemu dan bicara denganmu.”
Begitulah kurang lebih percakapan Mas Rangga dan Budhe Lastri yang sempat kudengar dari kamar. Tak lama setelah itu, aku tak mendengar apa-apa lagi. Sepertinya Mas Rangga menurut untuk pulang. Budhe Lastri pun segera menemuiku yang menangis ditemani Laili.
“Sabar Mbak Wulan … istighfar, Mbak,” kalimat yang dari tadi diulang Laili kepadaku, namun aku tak menggubrisnya.
“Nduk Wulan ….” Suara lirih Budhe Lastri memasuki pendengaranku. Aku pun segera memeluk wanita yang sudah aku anggap sebagai ibu tersebut.
“Budhe, Wulan ingin mati saja. Rasanya Wulan tidak kuat, Budhe … mengapa harus Nindi? Dia itu adikku, Budhe. Mengapa Mas Rangga setega ini padaku?” Tangisku semakin menjadi-jadi. Sementara Budhe Lastri memelukku dengan erat dan penuh kasih sayang.
“Sabar, Nduk,” ucap Budhe Lastri. “Laili, buatkan teh hangat buat Mbak Wulan,” lanjutnya.
“Baik, Bu.” Laili yang penurut segera bangkit dan menuju dapur.
“Menangislah sepuasmu, Nak Wulan. Akan tetapi jangan sekali-kali berpikiran pendek. Ingatlah, kau masih memiliki Rio. Dia masih kecil. Masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Nyebut, Nduk … ingat sama Gusti Allah. Jangan gegabah!” nasihat Budhe Lastri belum mampu menghentikan tangisku. Tak juga mampu menghapus rasa kecewa dan amarah yang membuncah di dadaku.
Semua ini terasa tidak adil. Allah terlalu kejam padaku. Sulit untuk merima kenyataan adikku sendiri yang merusak rumah tanggaku. Bagaimana dia bisa setega itu terhadapku? Ini rasanya benar-benar seperti mimpi buruk. Aku ingin terbangun dari mimpi dan menemukan bahwa itu hanya bunga tidur. Sayangnya, semua adalah kenyataan. Bahkan saat ini, adikku telah bersiap menjalani akad nikah dengan orang yang tadinya adalah suamiku, Mas Rangga.
#Flashback
“Budhe, aku tak kuat Budhe. Seandainya itu orang lain, mungkin rasa sakitnya tidak akan sedalam ini. Nindi itu adikku, Budhe … adikku!” aku histeris.
“Aku mengerti, Nduk. Aku juga wanita. Aku bisa memahami perasaanmu. Diduakan oleh orang yang kita cintai itu pasti sangat menyakitkan. Apalagi ini dengan adik kandungmu,” Budhe Lastri menarik napas, “tetapi, kamu harus bisa berpikir jauh ke depan. Nasi yang sudah menjadi bubur tidak mungkin bisa kembali menjadi beras. Semua telah terjadi, waktu tidak bisa diputar mundur. Kamu harus kuat dan tegar, demi anakmu, Rio,” lanjutnya.
“Sakit, Budhe! Di sini terasa sangat sakit dan sesak.” Aku menepuk-nepuk dadaku. Memberitahu bahwa luka di dalamnya terlalu dalam dan kelu.
“Iya, Budhe tahu. Tapi Nduk, jika kamu berpikir pendek, bunuh diri misalnya, apa itu dapat menyelesaikan masalah? Lalu, bagaimana dengan putramu yang masih kecil? Ingat juga, bunuh diri itu dosa besar. Allah tidak akan mengampunimu!”
Aku tak lagi menimpali perkataan Budhe Lastri. Kepalaku tiba-tiba terasa berat. Pandanganku semakin kabur karena ada banyak air mata yang menyembul begitu saja di pelupukku. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Aku limbung. Tersungkur di ranjang. Pingsan.
*****
Aku merenung beberapa hari sejak mengetahui perselingkuhan suami dan adikku. Aku tidak pulang. Memilih tetap tinggal di rumah Budhe Lastri. Aku masih tidak ingin bertemu dengan suami maupun adikku. Termasuk anakku, Rio. Aku tak melihatnya. Setiap hari kerjaku hanya melamun, mengutuk nasib burukku. Hingga seminggu lamanya, aku seperti mayat hidup tanpa gairah. Sampai Budhe Lastri memberitahuku bahwa Rio sakit. Badannya demam.
Sebuah kekuatan seperti muncul dari dalam diriku. Mungkin ini karena dorongan naluri keibuanku. Aku pun meminta Budhe Lastri untuk menemaniku pulang. Melihat kondisi Rio. Buah hati yang telah aku telantarkan selama sepekan terakhir.
“Wulan, akhirnya kamu pulang. Rio terus mencarimu, dia rindu sama kamu,” ucap Mas Rangga.
Aku tidak peduli dengan ucapan Mas Rangga. Juga tidak mau meperhatikan Nindi yang berdiri di dekatnya. Pandanganku hanya terfokus pada Rio. Aku pun langsung memeluk tubuh putraku yang terkulai lemas di tempat tidur. Wajahnya pucat, sedangkan badannya sangat panas.
“Rio, Bunda di sini, Nak! Maafkan, Bunda sayang …” bisikku di telinga Rio.
“Bunda, Rio kangen, Bunda …” begitu igau anakku. Matanya masih tertutup meski mulutnya terus mencercau memanggilku.
“Dokter sudah memeriksanya semalam. Obatnya juga sudah diminum, tetapi panasnya belum juga turun,” terang Mas Rangga meski tak diminta.
“Budhe, kita bawa Rio ke rumah sakit saja,” pintaku.
“Aku rasa lebih baik juga seperti itu. Budhe juga khawatir jika terjadi sesuatu pada Rio.”
“Akan aku antar,” tawar Mas Rangga.
“Tidak perlu!” tolakku. “Budhe, tolong bilang Mas Anas, minta antarkan aku dan Rio ke rumah sakit,” pintaku lagi. Mas Anas adalah putra pertama Budhe Lastri.
“Baiklah, tunggu sebentar. Budhe suruh dia siap-siap dulu.”
“Mengapa Mas Anas yang mengantar? Aku ayah Rio, lebih baik aku saja!” Mas Rangga menyatakan ketidaksetujuannya.
“Aku tidak sudi diantar olehmu!” teriakku pada Mas Rangga. Embun mataku kembali mengumpul, hendak tumpah. Mas Rangga menatapku lekat. Sementara, sempat kulihat Nindi yang hanya mematung dan tertunduk.
“Nak Rangga, demi Rio, tolong kalian jangan bertengkar. Jangan permasalahkan siapa yang mengantar. Hal terpenting adalah membawa Rio ke rumah sakit. Dia butuh mendapat perawatan sesegera mungkin,” nasihat Buhhe Lastri dengan bijak.
Mas Rangga tak menyahut. Langkah kaki Budhe Lastri juga terdengar menjauh. Meninggalakan kamar tempat Rio berbaring. Pasti memberitahu Mas Anas untuk mengantar kami.
“Rio sayang, jangan takut, Nak … Bunda ada di sampingmu. Kamu harus segera sembuh.” Aku memebelai kepala Rio.
“Wulan … maafkan aku,” pinta Mas Rangga yang telah berjongkok di tepi ranjang tempat aku duduk. “Aku tahu aku bersalah. Aku dan Nindi khilaf. Kami bersalah dan menyesali perbuatan kami. Biarkan kami menebus kesalahan kami. Aku mohon padamu, maafkan kami. Rio juga sangat membutuhkan kasih sayangmu. Jangan acuhkan dia!”
“Khilaf? Minta maaf? Menyesal? Mengapa kalian tak memikirkan hal itu sebelum kalian melakukannya? Nindi hamil! Artinya kalian tidak mungkin melakukan hal itu hanya sekali. Itu bukan khilaf Mas Rangga, itu nafsu setan yang kalian turuti!” lontarku penuh emosi.
Aku tak dapat mengendalikan diriku. Aku bahkan mendorong Mas Rangga agar menjauh dariku. Aku lupa bahwa di dekatku ada Rio yang terbaring sakit. Mungkin karena keget mendengar kata-kata kerasku, Rio terbangun sambil menangis.
“Rio, maafkan Bunda sayang … jangan takut, ya,” aku menenangkan Rio yang menangis. Air mataku sendiri juga sudah tak mampu kutahan lagi alirnya.
“Kalian jagan bertengkar dulu! Ayo, lekas bawa Rio ke rumah sakit!” perintah Budhe Lastri. Mungkin tadi dia mendengar suara kerasku yang sedang memaki Mas Rangga.
*****
Lima hari Rio berada di rumah sakit. Buhde Lastri selalu menemaniku menjaga Rio. Mas Rangga sebenarnya juga selalu datang setiap hari, tetapi aku mengusirnya. Hari itu, kami akan membawa pulang Rio. Mas Anas dan Laili datang menjemput kami. Ada segurat kecemasan yang kutangkap dari wajah mereka. Sepertinya telah terjadi sesuatu.
“Apa yang terjadi, Mas? Mengapa kalian tampak cemas?” tanyaku.
Mas Anas dan Laili tampak berpandangan sejenak.
“Itu Lan, kami tadi ke sini juga mengantar Nindi,” Mas Anas berhenti bicara sejenak. Tampaknya ingin mengetahui ekspresiku. “Tadi dia tiba-tiba pingsan,” lanjutnya.
Deg … jantungku berdegup lebih cepat. Selama lima hari ini, sebenarnya aku juga berpikir tentang Nindi. Mengingat kebersamaan kami. Nasibnya yang malang, yang tak pernah bertemu dengan ibu. Nindi, adik satu-satunya yang sangat aku sayangi.
“Kenapa Nindi pingsan, Mas? Bangaimana kondisinya sekarang? Ada di mana dia?” Aku membrondong Mas Anas dengan runtutan pertanyaan. Hatiku seketika diderap kecemasan.
“Masih ditangani dokter, Mbak,” Laili yang menjawab karena Mas Anas hanya terpaku.
“Laili, jaga Rio sebentar di sini. Anas, anatarkan kami ke tempat Nindi dirawat!” perintah Budhe Lastri.
Kedua anak Budhe Lastri mengangguk berasamaan. Aku yang tidak sabar pun meminta Mas Anas berjalan lebih cepat. Aku memang sangat marah kepada Nindi atas perbuatannya bersama suamiku. Namun ternyata, rasa sayang yang kumiliki untuk Nindi jauh lebih besar. Bagiku, Nindi tetaplah adik kecilku yang malang dan manja. Adik satu-satunya yang aku sayangi.
Ketika kami tiba di depan ruang IGD, suamiku tampak berdiri mematung di depan pintu. Sepertinya dia melamun hingga tidak menyadari kedatangan kami.
“Nak Rangga, bagaimana keadaan Nindi?” pertanyaan Budhe Lastri membuat Mas Rangga terkejut dan tersadar dari lamunannya.
“Maaf, Budhe … tadi Budhe tanya apa?” Mas Rangga masih terlihat linglung.
“Nindi bagaimana? Kenapa dia bisa pingsan?” aku menyela sebelum Budhe Lastri mengulang pertanyaannya. Aku sungguh khawatir pada adikku itu.
“Sejak kemarin Nindi tidak mau makan dan selalu merasa mual. Aku rasa itu karena kehamilannya. Namun tadi, dia tiba-tiba pingsan ketika hendak ke kamar mandi,” terang Mas Rangga.
Aku memandang Budhe Lastri dengan mata berkaca-kaca. Dirangkulnya bahuku oleh wanita penyabar itu.
“Tenang, Nduk, berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu,” kata Budhe Lastri.
Bersamaan dengan itu, seorang perawat muncul dan meminta keluarga pasien untuk menemui dokter. Aku dan Mas Rangga sempat berpandangan, seakan berunding siapa yang akan masuk bertemu dengan dokter tersebut. Tanpa kata, kami seperti sepakat untuk menemuinya bersama. Di dalam ruangan, sang dokter lalu memberikan keterangan kepada kami.