"Ini sudah siang, tidak ada waktu untuk ganti baju lagi. Dosen yang masuk pelajaran pertama bisa membunuhku jika aku terlambat masuk," jawab Irene langsung pergi dengan terburu-buru.
Mama geleng-geleng kepala melihat putrinya pergi tanpa mau mengganti bajunya terlebih dahulu. "Dasar bocah keras kepala."
"Sudah biarkan saja, nanti Mama bisa sakit kalau terlalu tegang begitu. Tensi Mama bisa naik," ucap Ronald.
"Iya, kepala Mama jadi sakit begini."
"Ayo," ajak Ronald melihat istrinya. "Ini sudah siang."
Adeline mengambil tas yang ada di sofa kemudian mengikuti suaminya pergi ke luar.
"Aku berangkat ke Sekolah Ma." Pamela pamit sambil mencium pipi kanan dan kiri.
"Iya, belajar yang rajin."
"Ok. Bye Mama."
"Bye," jawab Mama. "Belajar yang fokus!"
"Iya!"
Adeline berjalan di samping suaminya dengan tangan kanan membawa tas kerja. "Mas."
"Iya, kenapa?"
"Nanti siang, aku mau pergi ke Supermarket untuk membeli keperluan dapur."
"Kamu perlu uang?" Tanya Ronald.
"Tidak, uang bulanan yang kamu berikan padaku masih ada. Aku hanya minta ijin ke luar saja."
Ronald tersenyum melihat istrinya. "Pergilah Adel, beli apapun yang kamu mau dan juga beli kebutuhan untuk keperluanmu sendiri."
"Aku tidak perlu apa-apa."
"Beli saja sesuatu, misalnya baju atau make-up atau apapun yang kamu inginkan. Jangan terlalu menghemat, uang yang aku berikan tidak pernah kamu pakai," ucap Ronald.
"Baiklah, nanti kalau ada sesuatu yang menarik pasti aku beli."
"Ok! Sekarang aku berangkat kerja ya." Ronald mencium kening istrinya kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah terbuka pintunya.
"Aku berangkat ke Sekolah kak Adel," ucap Pamela langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kakaknya.
"Iya," jawab Adeline tersenyum.
Mobil perlahan bergerak melaju ke luar meninggalkan halaman rumah yang cukup luas dengan sang Nyonya muda yang masih betah melihat mobil suaminya ke luar dari pintu pagar yang otomatis terbuka sendiri.
Adeline menghela napas, dilihatnya sekeliling halaman yang nampak begitu asri dengan beraneka macam tanaman dan bunga mawar hasil dari tangannya yang telaten merawat bunga-bunga kesayangannya.
Rumah yang berdiri kokoh bergaya Eropa dengan didominasi cat berwarna putih dipandangi Adeline. "Sudah 3 tahun aku tinggal di sini, tapi entah mengapa hatiku selalu merasa menjadi orang asing di rumah suamiku sendiri."
"Nyonya Adel."
Adeline melihat ke belakang. "Mang Jiwo, ada apa?"
"Saya mau menanam bunga melati di dekat gazebo, apa boleh Nyonya?"
"Boleh Mang Jiwo, silahkan."
"Iya Nyonya Adel, terima kasih. Saya minta ijin dulu ke Nyonya, soalnya Ibunya Tuan Ronald selalu marah kalau saya salah menanam bunga," ucap mang Jiwo.
Adeline tersenyum. "Tanam saja bunganya Mang Jiwo, tapi yang rapi. Biar nanti saya yang bicara dengan Mama."
"Iya Nyonya." Mang Jiwo kemudian pergi menuju gazebo yang berada ditengah-tengah taman.
Adeline masuk ke dalam rumah, suasana sepi dan dinginnya lantai marmer menyambut dirinya yang baru saja masuk. Dilihatnya ruang tamu yang didominasi warna putih dengan gorden bernuansa emas serta sebuah lukisan bunga abstrak ikut menghiasi dinding ruang tamu.
Adeline melihat asisten rumah tangganya masih merapikan meja makan bekas mereka semua tadi sarapan. "Bibi, belum selesai?"
"Belum Nyonya," jawab Bibi.
"Biar aku bantu Bi."
"Eh, tidak usah Nyonya Adel. Biar saya saja," jawab Bibi.
"Tidak apa-apa Bi." Adeline ikut membantu membawakan piring kotor ke dapur.
"Nyonya sudah banyak bekerja dari pagi hari. Setiap hari selalu memasak menyiapkan sarapan pagi untuk semua."
"Sudah kebiasaan aku bangun pagi, kalau tidak bekerja badanku malah pegal," jawab Adeline.
"Nyonya memang menantu idaman. Beruntung sekali Tuan Ronald mendapatkan istri seperti Nyonya Adel," puji Bibi mulai mencuci piring kotor satu per satu.
"Biasa saja Bi, menantu yang lain juga banyak yang seperti saya. Bahkan jauh lebih baik dariku."
"Ada, tapi sudah jarang punya menantu yang hebat seperti Nyonya Adel. Sejak ada Nyonya di sini, rumah ini jadi ramai dan terlihat ceria. Padahal dulu sebelum Nyonya menikah dengan Tuan Ronald, rumah ini seperti kuburan. Semua orang yang ada di rumah ini sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang selalu ada di rumah itu paling cuma Nona Pamela karena waktu itu masih kecil."
"Pamela sering ditinggal sendiri?" Tanya Adeline.
"Iya, Tuan Ronald memang sibuk dengan perusahaan yang diwariskan Ayahnya jadi wajar kalau jarang di rumah. Berangkat pagi, pulang setelah tengah malam."
"Lalu Mama?"
Bibi melihat ke arah pintu kemudian berbisik. "Nyonya Melani sibuk dengan teman-teman arisannya, setiap hari selalu ada arisan. Hi-hi-hi."
Adeline tersenyum. "Masa setiap hari arisan Bi?"
"Eh, betul itu Nyonya Adel, saya tidak bohong," jawab Bibi dengan memasang wajah meyakinkan. "Setiap hari ada arisan, tapi kalau sudah menang tidak pernah bicara, giliran bayar arisan pasti teriak minta uang. Hi-hi-hi."
"Hush! Nanti didengar Mama," tegur Adeline sambil tersenyum.
Bibi langsung menutup bibirnya rapat-rapat dan melihat ke arah pintu. "Bibi berani bicara begitu, karena tahu Nyonya Adel tidak akan mengadu pada Ibunya Tuan Ronald."
"Apa yang harus aku adukan? Tidak ada yang perlu diadukan. Bibi tidak berbuat kriminal, tapi mulut Bibi itu harus dijaga."
"Hi-hi-hi. Iya Nyonya."
"Nanti siang masak apa Bi?" Tanya Adeline mengalihkan pembicaraan.
"Belum tahu. Belum ada yang minta dibuatkan untuk makan siang, tapi sepertinya masak rendang saja."
"Iya, rendang saja," jawab Adeline.
"Jangan masak rendang!" Terdengar suara dari arah belakang mereka berdua. "Daging dan santan!"
"Mama," ucap Adeline begitu tahu siapa yang bicara.
"Jangan masak rendang! Kamu mau membunuhku setiap hari masak masakan berkolesterol tinggi?"
Adeline terdiam menatap wajah mertuanya bingung, sementara Bibi langsung menunduk melanjutkan mencuci piring-piring kotor.
"Rendang itu bisa memicu kolesterol Mama naik! Apa kamu berharap Mama cepat-cepat pergi dari dunia ini?"
"Aku tidak mengerti, maksudnya apa Ma?"
"Jangan pura-pura bodoh!" Jawab Mama ketus. "Dasar menantu tidak berguna."
Adeline tidak bicara lagi. Jika menjawab perkataan mertuanya, nantinya malah semakin banyak kata-kata yang akan menyakiti hatinya jadi jalan satu-satunya hanya dengan diam dan bersabar.
Diam-diam Bibi merutuki dirinya sendiri. Gara-gara ide darinya makan siang dengan menu rendang, Nyonya Adel yang terkena sasaran mulut pedas dan tajam Nyonya Melani.
"Mama apa perlu sesuatu?" Tanya Adeline setelah beberapa saat terdiam untukq mencairkan suasana agar tidak tegang.
"Bukan urusanmu!" Jawab Mama ketus berjalan melewati Adeline. "Bibi!"
"Eh, iya Nyonya," jawab Bibi hampir meloncat kaget dipanggil dengan suara kencang dalam jarak yang begitu dekat.
"Cuci piring yang benar, jangan melamun! Bisa habis nanti piring-piringku pecah semua!"
"Tidak melamun kok Nyonya, Bibi fokus mencuci piring," jawab Bibi.
"Selesai mencuci piring, buatkan aku wedang jahe! Tubuhku rasanya tidak enak, sepertinya mau flu."
"Aku saja yang buatkan Ma," jawab Adeline menawarkan diri.
"Aku menyuruh Bibi, bukan kamu! Lagipula wedang jahe buatanmu tidak enak sama sekali. Jangan cari muka di depanku!" Jawab Mama ketus menatap tajam wajah menantunya.
Setelah selesai mencuci piring, Bibi langsung mendekati Nyonya besarnya. "Nanti Bibi antarkan ke kamar Nyonya kalau sudah selesai."
"Jangan pakai lama!"
"Iya Nyonya," jawab Bibi.
Adeline terdiam, sudah biasa baginya selalu mendapat kata-kata pedas dari mulut mertuanya. Apalagi jika tidak ada Ronald disampingnya, pasti kata-kata pedas berupa hinaan meluncur deras dari mulut Nyonya Melani, mertuanya.
Nyonya Melani pergi dengan wajah tegangnya, terlihat sekali sorot mata yang tidak menyukai menantunya, Adeline.
"Sabar Nyonya Adel, memang Nyonya besar seperti itu," ucap Bibi merasa kasihan melihat Nyonya mudanya yang tidak bisa berkutik jika menghadapi mertuanya.
Adeline tersenyum melihat Bibi. "Aku tidak apa-apa Bi, sudah biasa bagiku melihat Mama seperti itu."
"Padahal Nyonya sangat baik, punya hati yang lembut dan tidak pernah melawan, tapi kenapa Nyonya besar selalu saja marah-marah tanpa alasan. Bibi tidak mengerti."
"Sudahlah Bi, jangan membahas itu. Bagiku Mama mertua sudah seperti Mamaku sendiri. Apapun yang diucapkannya tidak pernah aku masukin dalam hati," jawab Adeline dengan perasaan yang jauh di dalam hatinya merasakan sakit hati yang teramat dalam, tapi demi menghindari pertengkaran dirinya rela diam dan mengalah.
"Nyonya benar-benar berhati malaikat, Tuan muda Ronald sangat beruntung punya istri sebaik dan secantik Nyonya," puji Bibi.
"Eh, sampai kapan mau mengobrol? Bibi mau kena marah lagi dari Nyonya besar karena wedang jahenya lama?"
"Bibi hampir lupa. Hi-hi-hi."
"Buatkan yang enak wedang jahenya biar tidak kena tegur."
"Nyonya, apa Nyonya masih ingat?" Tanya Bibi dengan tangan yang mulai sibuk untuk membuat wedang jahe.
"Ingat apa?"
"Bulan lalu, Nyonya besar pernah minta dibuatkan wedang jahe," jawab Bibi.
"Iya, aku ingat. Kenapa?"
"Waktu itu sebenarnya yang membuat wedang jahe Nyonya, tapi Bibi yang memberikannya pada Nyonya besar di ruang tamu."
"Lalu?" Tanya Adeline.
"Nyonya besar memuji wedang Jahe yang Bibi antarkan, katanya sangat enak. Hi-hi-hi. Nyonya besar pikir, wedang jahe itu buatan Bibi padahal Nyonya Adel yang membuatnya."
"Biarkan saja, aku yang membuatnya atau Bibi yang membuatnya sama saja," ucap Adeline.
"Tapi barusan, Nyonya besar bilang wedang jahe buatan Nyonya Adel tidak enak. He-he-he. Tidak tahu saja kalau dulu pernah memuji wedang jahe buatan Nyonya Adel setinggi langit."
Adeline tersenyum, tapi dari sorot matanya terlihat begitu banyak kesedihan. "Tidak apa-apa Bi, kita maklumi saja."
"Nyonya Adel terlalu baik, sekali-kali kalau Nyonya besar bicara keterlaluan yang menyakitkan hati, Nyonya lawan saja. Jangan mau diinjak-injak apalagi tanpa tahu kesalahan kita itu apa."
"Aku tidak mau ribut," jawab Adeline.
"Menghindari keributan memang bagus, tapi kalau terlalu diinjak juga tidak baik Nyonya. Nanti bisa jadi sakit bathin."
Adeline tersenyum kecut, apa yang dikatakan Bibi memang ada benarnya, tapi jika harus melawan mertuanya, sama saja dirinya melawan suaminya yang sangat sayang sekali pada Mamanya.
"Eh, Nyonya. Apa sudah bertemu dengan tukang kebun, Mang Jiwo?" Tanya Bibi.
"Sudah tadi di depan. Kenapa?"
"Tadi Mang Jiwo mencari Nyonya, katanya mau menanam bunga di dekat gazebo atau apa ya itu, Bibi lupa."
"Oh, itu. Tadi sudah bicara dengan Mang Jiwo. Menurutku tidak masalah mau menanam bunga melati atau bunga apapun di dekat gazebo, malah menurutku itu akan menambah indah," ucap Adeline.
"Kalau menurut kita memang begitu, akan menambah keindahan, tapi akan berbeda kalau menurut ---," Bibi mengecilkankan volume suara bicaranya. "Nyonya besar bisa marah karena seleranya berbeda. Hi-hi-hi."
"Hush! Bibi ini dari tadi gibah melulu." Adeline tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"He-he-he."
"Lanjutkan itu membuat wedang jahenya. Aku mau ke kamar untuk bersiap-siap pergi, sebentar lagi mau ke luar."
"Iya Nyonya," jawab Bibi.
Adeline pergi meninggalkan Bibi, berjalan melewati beberapa ruangan yang terlihat sepi. Langkah kakinya berhenti ketika akan menaiki tangga, kedua matanya melihat lukisan yang terlihat miring di ruang keluarga.
"Kenapa lukisannya miring?" Gumam Adeline berjalan mendekati lukisan bunga abstrak yang ukurannya cukup besar.
Adeline memperhatikan lukisan yang miring dari atas sampai bawah dengan seksama. "Apa pakunya terlepas atau patah?"
Dengan sangat hati-hati Adeline memegang bagian bingkai lukisan yang miring. "Sepertinya, pakunya memang ada yang lepas jadi sebelah sini miring. Bagaimana cara membetulkannya?"
Adeline memandangi lukisan bunga abstrak. "Ini lukisan kesayangan Mama, kalau kenapa-kenapa dengan lukisan ini, bisa hancur dunia persilatan."
Adeline kembali memegang bingkai lukisan yang terbuat dari kayu. "Sebaiknya aku suruh orang untuk membetulkan pakunya kembali."
Adeline melihat ke kiri dan kanan berharap ada orang yang terlihat, tapi tidak ada satupun yang terlihat. "Sebaiknya aku cari tukang kebun untuk membetulkan pakunya."
Baru saja Adeline beberapa langkah berjalan untuk mencari orang, terdengar suara benda jatuh sehingga secara spontan Adeline melihat ke belakang.
PRANG!
"Ya Tuhan!" Adeline melotot kaget melihat lukisan yang sudah jatuh di atas meja dengan bagian tengah-tengah kacanya pecah karena menimpa sebuah guci yang ada dibawahnya dengan kondisi yang juga pecah berantakan.
"Suara apa itu?" Terdengar suara Bibi dari arah tangga.
Tidak lama kemudian terdengar pula suara nyaring dari atas. "Suara apa itu?"
Adeline diam terpaku melihat lukisan yang kacanya sudah pecah di atas sebuah guci yang kondisinya tidak jauh berbeda terbagi menjadi beberapa bagian.
"Ya Tuhan!" Teriak Mama dari belakang Adeline.
Adeline langsung membalikkan tubuhnya melihat Mama dengan kedua tangan menutup bibirnya serta mata yang terbuka lebar. "Mama."
"Apa ini?" Tanya Mama mendekat.
"Ini, ini, a aku aku tidak tahu," jawab Adeline gugup.
Mama terdiam beberapa detik, lalu tanpa bertanya apapun langsung marah melihat menantunya. "Apa yang telah kamu lakukan?"
"Aku lakukan? Apaa, a apa maksud Mama?" Tanya Adeline bingung.
"Dasar tidak berguna! Jangan pura-pura bodoh!"
"Aku tidak mengerti," jawab Adeline.
"Kamu apakan lukisan kesayanganku? Dan ini ---," Mama mendekati guci ukuran kecil yang sudah pecah. "Guci ini, guci ini guci kesayanganku."
"Aku tidak tahu Ma," jawab Adeline.
"Kamu tahu berapa harganya ini?" Tanya Mama menatap marah wajah menantunya.
"Pasti sangat mahal."
"Lebih mahal dari harga dirimu!" Ucap Mama dengan galak.
Hati Adeline bagai tersayat pisau, harga dirinya begitu rendah di mata mertuanya yang sangat dia hormati. Sementara Bibi hanya diam berdiri dengan tangan sedang memegang nampan kecil berisi gelas wedang jahe.
"Kalau kamu tidak suka dengan Mama bicara langsung, jangan kamu merusak benda-benda kesayangan Mama yang harganya selangit!"
"Apa maksud Mama? Aku tidak melakukan apapun, tadi lukisan itu terjatuh sendiri."
"Tidak mungkin lukisan ini terjatuh sendiri. Kamu pikir lukisan ini bergerak sendiri?"
"Tapi memang seperti itu. Lukisan itu jatuh sendiri ketika aku hendak mencari orang untuk membetulkannya, karena terlihat miring. Mungkin pakunya ada yang terlepas atau patah."
"Kamu sudah tahu lukisannya miring, kenapa tidak mengambilnya dan menaruhnya di bawah?" Tanya Mama ketus memandangi lukisan yang kacanya sudah pecah.