Bab 2

Acara resepsi pernikahan Maya, dan Arthur di gelar dengan sangat megah. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai, dan seluruh keluarga inti dari kedua belah pihak. Acara yang diadakan di rumah Arthur Itu, sudah berlangsung dari beberapa jam yang lalu. Para tamu undangan pun sudah memadati tempat acara resepsi dilaksanakan.

Dengan perputaran waktu, bersamaan dengan pelaksanaan acara yang sangat meriah itu, hari pun semakin gelap. Jarum jam sudah menunjuk angka 11. Itu menandakan sebentar lagi acara resepsi pernikahan Arthur, dan Maya akan segera selesai.

Sebagai pasangan yang sedang anget-angetnya. Pasangan yang sedang di landa kebahagiaan dengan hati yang berbunga-bunga, Arthur, dan Maya terus bergandengan mesra di hadapan para tamu undangan. Senyum kebahagiaan selalu terukir di bibir mereka berdua. Sesekali, Arthur membawa jemari lembut Maya ke bibirnya. Dia mencium jemari itu dengan penuh cinta, dan sayang. Maya yang mendapat perlakuan manis dari suaminya, terlihat begitu bahagia, dan selalu tersenyum setiap kali Arthur melakukannya.

"Yang!" panggil Arthur pelan, dengan tangan yang terus menggenggam jemari lembut Maya.

"Iya, my cinta," jawab Maya sambil tersenyum. Senyuman Maya itu sungguh menawan di mata Arthur.

"Sayang, kamu manis sekali," goda Arthur yang berbicara setengah berbisik di dekat telinga Maya.

"Memang aku manis, kan kamu sudah pernah mencicipinya" jawab Maya membanggakan diri sambil menggoda suaminya dengan kerlingan mata genitnya.

"Kalo aku pahit, mana mungkin kamu mau sama aku, dan sudah pasti kamu tidak mau menciumku sampai lupa diri seperti tadi" ucap Maya sambil menyandarkan kepalanya ke dada bidang milik suaminya.

"Belum … aku belum pernah mencicipinya. Boleh aku mencicipinya sekarang? aku juga sudah gak tahan mau merasakan kemanisan dari istriku untuk kucicipi." Tangan Arthur melingkar di pinggang Maya dengan genit. Dia mencubit kecil pinggang istrinya yang membuat sang istri menggelinjang geli.

"Geli, Yang!" Maya mencoba melepaskan tangan Arthur dari pinggangnya. Namun, sang empu tangan terus kekeh berada di sana.

"Gimana, Yang? apakah aku sudah bisa mencicipi kamu?" goda Arthur yang membuat Maya salah tingkah.

"Dasar suami Mesum." Maya memalingkan wajahnya yang sudah bersemu karena malu di godain suaminya.

"Mesum sama istri sendiri, gak apa-apa kan, Yang? asalkan jangan mesum sama orang lain." Tangan Arthur membelai pipi Maya, dan membawa wajah yang sudah merona itu mendekatinya. Arthur mencium bibir Maya sekilas.

"Asli mesum." Maya mengusap bekas ciuman Arthur di bibirnya dengan ibu jari.

Setiap kali Arthur mencium, dan membelainya, tubuh Maya selalu meremang dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Dadanya selalu bergemuruh, dengan nafas yang terasa berat. Mungkin, itu terjadi karena Maya tidak biasa berdekatan dengan lelaki manapun, dan Arthur adalah orang pertama yang melakukan itu padanya. Sehingga, Maya dengan sangat mudah terbawa perasaan saat berdekatan dengan Arthur.

"Tapi, kamu menikmati semua itu kan, Yank?" Arthur mencium pucuk kepala Maya dengan desiran darah di dadanya yang terasa tidak karuan. Perasaan mereka berdua saat ini, sama-sama tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.

"Kamu sangat cantik, dan baik." puji Arthur yang menatap istrinya dengan penuh cinta.

"Itu semua adalah alasannya aku mencintai kamu. Karena, kamu mempunyai kelebihan itu semua di dalam diri kamu. Kamu juga sangat manis, manis sekali … sehingga, kelebihan kamu itu membuat hatiku klepek-klepek tidak karuan," gombal Arthur. Dia menarik Maya ke dalam pelukannya, mencium pucuk kepala Maya beberapa saat.

"Kamu adalah ratu penguasa hatiku. Ratu yang tidak akan kalah oleh siapapun. Ratu yang akan tetap menguasai diriku, dan akan selalu bertahta di singgasana jiwa ini," Arthur memeluk erat tubuh istrinya, seakan tidak mau lepas, dan terpisahkan walau sedetik saja.

Maya menarik diri dari pelukan suaminya dengan senyum mengejek. "Lebay …," ucapnya mendorong pelan dada bidang Arthur.

"Aku gak lebay, Sayang! Aku serius. Kamu itu adalah orang yang aku nobatkan jadi penguasa di hatiku." Arthur menarik tangan Maya, dan membawanya kembali mendekati mulutnya, Arthur mencium tangan itu sekilas, sebelum menggenggamnya dengan penuh cinta yang menggebu-gebu di hatinya.

"Udah mesum, lebay, dan suka gombal. Hadeh … kenapa suamiku begini, Tuhan." Maya menepuk jidatnya, pura-pura frustasi. Padahal di hatinya sudah bersorak bahagia mendengar ucapan dari suaminya, ucapan yang menebar bunga cinta bermekaran yang membuat dia terbang ke khayalan yang tiada menaruh luka.

"Aduh, Yang. Kenapa sih, kamu menganggap aku seperti itu? Kamu mau bukti apa? biar aku buktikan sekarang juga, agar kamu percaya kalau aku serius dengan ucapanku?" tanya Arthur yang tidak terima dikatai seorang penggombal oleh Maya.

"Apa perlu seperti ini," Arthur langsung menyambar bibir Maya, melumatnya, hingga melahap seperti orang lagi kehausan. Lidah Arthur menerobos masuk ke dalam rongga mulut Maya, berdansa di dalam sana dengan lidah Maya. Ciuman itu berlangsung beberapa menit, hingga nafas mereka saling memburu, dan terasa kehabisan oksigen, barulah Arthur melepaskan ciuman nya.

Nafas Arthur, dan Maya tidak beraturan. Jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Ciuman yang baru saja mereka lakukan berhasil membuat mereka berdua seperti selesai menaiki wahana roller coaster. Saat ini wajah Maya merona, dengan Mata yang sayu akibat gelora nafsu yang mulai terpancing dalam dirinya.

"Kamu sangat menggairahkan, Sayang. Wajahmu yang merona itu membuat aku gak bisa menahan diri untuk bermain gulat denganmu. Apalagi sudah halal begini, rasanya, aku mau menerkam mu sekarang juga," Arthur membawa tubuh Maya ke dalam pelukannya. Di dalam dada Arthur, masih tersisa debaran yang sangat menggelora untuk melanjutkan permainannya.

"Aku semakin tidak bisa menahan untuk melumpuhkanmu di atas kasur, Sayang" bisik Arthur dengan suara yang sudah berat,  di dekat telinga Maya, dengan tangan yang mengusap lembut tengkuk istrinya. Bisikan, dan belaian Arthur itu, mampu membuat seluruh tubuh Maya meremang. Darahnya kembali berdesir, seakan sedang di sengat listrik.

"Kapan para tamu undangan kita akan pulang, Sayang? Aku sudah gak tahan lagi," tangan Arthur terus membelai tengkuk istrinya dengan hasrat yang benar-benar sudah terpancing oleh dirinya sendiri.

Maya yang salah tingkah, dan merasa risih dengan ucapan suaminya yang sangat sensitif, dia Menarik lepas dirinya dari pelukan Arthur. "Mesum!" Maya menggeser duduknya, memberi jarak diantara mereka.

"Sayang, sini! kenapa kamu menghindar begitu," Arthur kembali menarik tubuh Maya ke dalam pelukannya.

"Jangan menghindar begitu! kamu membuat aku semakin bergairah dengan wajahmu yang malu-malu kucing seperti ini," Arthur memegangi kedua pipi Maya, dan menciumnya genit. Bibir Maya pun tidak luput dari kenakalan bibir Arthur.

"Sayang, jangan begini lagi! Banyak orang!" Maya menarik dirinya. Namun, Arthur semakin mempererat pelukannya.

"Biarin saja mereka, kamu nikmati saja!" Arthur kembali melancarkan Aksinya menciumi seluruh wajah perempuan di hadapannya, yang kini sudah resmi menjadi pasangan halal untuk dia.

"Malu sama mereka, Yank," rengek Maya, yang semakin kewalahan dengan perbuatan suaminya. Tangan Arthur sudah menjalar dan menggerayangi tubuh Maya, tanpa memikirkan tempat dimana mereka sedang berada saat ini.

"Jangan hiraukan mereka! Sudah aku bilang dari tadi, biarkan saja mereka, toh kita buat pahala. Bukan berbuat dosa," Arthur langsung melumat kembali bibir Maya dengan lahap.

"Cie … yang udah gak bisa nahan, Ha ha ha," Beberapa orang teman Arthur datang menghampiri mereka yang sedang berciuman panas di tempat terbuka.

"Mengganggu saja," jawab Arthur melepaskan ciumannya dengan Maya.

Maya menunduk Malu sambil menyapu bibirnya yang basah oleh perbuatan Arthur dengan jemarinya. Maya merasa sangat kehilangan muka di hadapan teman-teman Arthur, dia tidak punya keberanian untuk menengadahkan wajahnya menyambut kedatangan beberapa orang tamu undangan resepsinya itu. Saat ini, ingin rasanya Maya berlari sejauh mungkin, agar teman-teman Arthur tidak bisa melihat wajah malunya.

"Hai, bro ... selamat, ya," ucap salah satu di antara mereka yang mendekati Arthur sambil menaik turunkan alisnya.

"Tahan sebentar lagi!" imbuh yang lainnya.

"Terima kasih, ya. Kalian sudah mau datang kesini," jawab Arthur santai, seakan tidak terjadi apa-apa yang dilihat oleh teman-temannya.

"Pasti donk, kami hadir sekalian cari mangsa, he he he ...." canda salah satu teman Arthur.

"Iiss ... sadar! ingat umur, carilah untuk yang serius, bukan untuk main-main lagi!" jawab Arthur memperingatkan teman-temannya tentang umur mereka yang tidak lagi sebagai anak remaja .

"Iya, mana tau dapatnya di sini, iya, gak?" tanya Varo kepada teman-temannya yang lain.

"Betul, itu." jawab mereka berbarengan.

"Kita kesana dulu ya, mau makan gratis," ucap Varo yang tidak mau mengganggu lama kedua pasangan itu.

"Iya, silahkan! makan yang banyak, ya!" ucap Arthur mempersilahkan.

"Itu sudah pasti!" jawab mereka bersamaan.

"Silahkan lanjutkan aktifitas kalian kembali!" kata teman Arthur yg sudah bersiap untuk meninggalkan Arthur, dan Maya.

"Jangan di tempat begini, bawa ke kamar, sana! supaya lebih leluasa! kami akan menunggumu sampai selesai di depan sana," bisik Varo di telinga Arthur sambil mencolek lengan sahabatnya.

Arthur tidak menjawab apa yang dibisikkan oleh Varo barusan. Tapi, memorinya langsung tersambung dengan saran dari Varo. Dia bahkan mengiyakan bisikan itu di dalam hatinya.

Bab 3

Tamu undangan yang tadinya sangat ramai, dan riuh memeriahkan pesta resepsi pernikahan Arthur, dan Maya. Kini telah berangsur sepi. Malam pun semakin larut. Satu per satu di antara mereka yang telah hadir, pamit undur diri kepada Arthur, dan Maya. Mereka beranjak pergi meninggalkan rumah Arthur yang dijadikan tempat acara itu berlangsung.

Kaki Maya terasa kebas, karena keseringan berdiri dari tadi memakai high heels. "Yaank …!" rengek Maya dengan Manja, di dekat suaminya, sambil memegang kakinya yang sudah mulai kram.

"Hmm, ada apa, Sayang? kamu kenapa? tanya Arthur menoleh ke samping, melihat ke arah istrinya yang merengek.

"Kakiku …." Maya terus memegangi kakinya yang terasa semakin kebas.

"Kakimu kenapa, Yang?" Arthur yang merasa cemas, ikut memegang kaki istrinya. Di raba, dan dia cek untuk memastikan ada apa dengan kaki istrinya.

"Kakiku pegal, dan kebas, Yang," rengek Maya semakin manja. "Mungkin, karena aku keseringan berdiri dari tadi."

"Sini, aku pijitin." Arthur meletakkan kaki Maya di atas kakinya, memijatnya dengan serius, berusaha untuk meredakan rasa nyeri, dan kebas di kaki istrinya.

Mereka berdua terlihat begitu romantis, dan so sweet. Tidak ada rasanya yang lebih bahagia, ketika kita bisa mencintai, dan juga dicintai. Itulah yang kini sedang mereka rasakan, dan jalani bersama.

"Gimana pijatanku?" tanya Arthur yang terus memijat kaki istrinya dengan lembut.

"Enak," jawab Maya tersenyum.

"Enakan mana dengan ciumanku?" Arthur melirik Maya dengan kerlingan mata genitnya, dan menghentikan gerakan tangannya sesaat.

"Tau, ah," jawab Maya memalingkan wajahnya dari sang suami.

"Kenapa gak tau? mau coba bandingin?" Arthur menarik tubuh Maya ke dalam dekapannya dengan agresif.

"Itu kan ma-," ucapan Maya terhenti karena Arthur membungkam mulut Maya dengan bibirnya.

Maya berusaha melepaskan ciuman mereka. Tapi, Arthur semakin memperdalam ciumannya. Arthur memegangi kepala belakang Maya dengan tangan kanannya. Sedangkan, tangan kiri Arthur memeluk erat pinggang ramping sang istri.

Maya terus berusaha melepaskan diri dari suaminya. Karena tempat mereka berciuman bukanlah tempat yang layak untuk melakukan itu. Tapi, hati, dan perasaan Maya seakan berkata lain. Dia menikmati setiap kegiatan Arthur. Sekarang, Maya merasa menjadi orang yang paling munafik. Jiwa, dan raganya kali ini tidak se jalan. Raganya mau melepaskan diri dari Arthur, dan menyudahi kegiatan mereka. Namun, jiwanya, meminta lebih, dari belaian Arthur. Beberapa tamu undangan yang masih berada di sana dapat melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.

Sebagian tamu undangan yang mau pamit pulang kepada mereka berdua, mengurungkan niat mereka untuk menemui Arthur, dan Maya. Mereka tidak mau mengganggu aktifitas dua sejoli yang sedang saling bertautan bibir itu. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing tanpa berpamitan kepada kedua mempelai terlebih dahulu.

Kondisi tempat resepsi sudah sepi. Tamu undangan tidak ada lagi yang terlihat di sana. Tapi, kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu tidak menyadarinya. Mereka masih setia untuk saling pagut, dan salin memainkan lidah untuk berdansa di dalam rongganya. Arthur mengusap lembut punggung istrinya dengan bibir yang tetap menyatu dengan Maya. Sedangkan Maya telah mengalungkan tangannya ke leher sang suami dengan sangat manja. Tangan Arthur menjalar, menjelajah tiap lekuk tubuh wanita pujaan hatinya, yang kini telah halal untuk dia raba. Tangan itu terus Menjelajah kemana-mana. Hingga, dia menemukan bukit kembar yang begitu empuk untuk di mainkan. Arthur meremas, mencengkeram pelan bukit bulat di dada istrinya dengan lembut.

Nafas keduanya terus berburu, detak jantung mereka pun bekerja lebih dari biasanya. Darah di sekujur tubuh kedua sejoli itu berdesir seakan terkena sengatan listrik, membuat mereka semakin enggan untuk melepaskan satu sama lainnya. Mereka berdua benar-benar sudah mabuk, dan lupa diri. Mereka tidak lagi memikirkan tempat dimana mereka pada saat ini.

Arthur terus meremas, dan mencengkram lembut gunung kembar nan empuk bak squishy itu dengan nakal. Seakan mendapatkan permainan baru, Arthur tidak bisa move on dari sana. Dia merasa ketagihan untuk bermain di gunung sintal milik istrinya. Maya yang mendapat pijatan di area aset berharganya, meremang, dan memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut yang membawa dia terbang ke angkasa luar.

"Mmphhh …." Arthur dan Maya melepaskan ciuman mereka. Karena, merasa sesak napas, dan kebas di bagian bibirnya karena kelamaan berciuman.

Mereka sama-sama terdiam sejenak, sebelum saling lempar senyuman yang penuh arti, dan mengandung sejuta kebahagian di dalamnya.

"Sayang, terima kasih." Arthur menarik Maya ke dalam pelukannya dengan perasaan haru, dan cinta.

"Terima kasih, telah menjadi wanita untuk ku miliki, dan ku jadikan permaisuri," ucap Arthur di dekat telinga Maya.

"Iya, Sayang. Terima kasih, juga. Telah mau menerima aku, dan menjadikan aku sebagai seorang istri mu." Maya membalas pelukan suaminya dengan perasaan cinta, dan sayang yang tidak kalah besarnya dari cinta Arthur untuk dirinya.

Mereka mengurai pelukan dengan senyuman bahagia yang terus mengambang di bibir kedua insan itu. Arthur kembali ingin melancarkan aksinya untuk mencium bibir ranum sang istri. Tapi, aksi Arthur langsung di gagal kan oleh Maya. Maya menepis wajah Arthur dengan tangannya, dan berusaha memalingkan wajahnya. Agar Arthur tidak lagi melakukan hal yang sama dengan yang baru saja mereka lakukan di tempat terbuka.

Di depan masih terlihat beberapa orang teman Arthur yang sedang asyik bergurau, dan bermain sebuah permainan kartu yang biasanya dimainkan oleh sekelompok orang. Maya tidak mau di pergoki lagi oleh teman-teman Arthur seperti tadi, saat mereka baru datang.

"Kenapa bisa khilaf begini?" gumam Maya pelan, yang masih bisa didengar oleh Arthur.

"Kenapa, Yang? Khilaf gimana?" tanya Arthur kepo.

"Kenapa bisa aku meladeni kamu berciuman. Sedangkan di depan sana masih ada teman-teman kamu yang sedang bermain kartu," jawab Maya.

"Kamu menyesal membalas ciuman aku?" ucap Arthur salah sangka.

"Bukan begitu, Yang. Aku hanya takut mereka memergoki kita sedang berciuman seperti tadi. Mereka akan meledek kita lagi. Aku 'kan jadi malu, Yang," terang Maya.

"Kirain aku, kamu menyesal berciuman sama aku," jawab Arthur merasa lega dengan penuturan istrinya.

"Gak, lah, Yank. Mana mungkin aku menyesalinya," ucap Maya merona.

"Aku Capek, Yang. Mau istirahat, sudah malam." rengek Maya, bergelayut di tangan sang suami.

Mendengar keluhan dari istrinya, Arthur langsung menggendong tubuh Maya ala bridal style menuju kamar Arthur yang kini telah menjadi kamar mereka berdua.

Mendapat perlakuan yang sangat romantis dari suaminya, Maya tidak tinggal diam. Dia mengalungkan tangannya ke leher Arthur, dan memainkan jemari lentiknya di sekitaran leher belakang sampai daun telinga Arthur, serta sesekali mengecup pipi dan bibir suaminya sekilas.

Menerima sentuhan demi sentuhan dari jemari lembut istrinya, membuat bulu roma Arthur kembali meremang, dan juga mengundang si tombak pusaka untuk berdiri menantang di balik celananya. Tombak pusaka yang sudah berada dalam mode on itu, terasa sesak, dan ingin secepatnya dibebaskan dari dalam sana untuk dipijat oleh gua di antara belahan bukit telaga.

"Jangan begitu, Yang! Aku gak tahan," bisik Arthur dengan suara berat karena gelora dalam dirinya yang sudah menggebu-gebu.

"Awas, ya! Nanti sampai kamar, kamu gak bakalan aku kasih ampun. Aku akan hukum kamu sampai gak bisa berjalan," ancam Arthur yang tidak membuat Maya takut.

Mendengar ancaman dari Arthur, Maya malah seakan semakin menantang sang suami. "Benarkah? Tapi, aku kok sanksi, ya?" ledek Maya.

"Kita buktikan sebentar lagi. Kamu pasti akan berteriak untuk aku menghentikannya. Tapi, aku gak bakal menghentikannya. Kamu harus bersiap-siap untuk menerima hukuman dariku," ucap Arthur mempercepat langkah kakinya.

"Kita buktikan saja, nanti," jawab Maya yang juga sedang dilanda birahi dalam dirinya.

Sesampainya di dalam kamar, Arthur membaringkan Maya di atas ranjang dan langsung melumat bibir Maya dengan mesra. Maya kembali mengalungkan tangannya ke leher Arthur yang tadinya sempat terlepas saat Arthur menidurkannya di ranjang. Arthur beranjak naik ke atas tempat tidur tanpa melepaskan pagutannya. Tangan Arthur bergerilya kesana kesini, dan menerobos masuk kedalam gaun yang Maya kenakan. Tangan kokoh Arthur terus beraksi, menjelahi seluruh tubuh istrinya, sampai pada akhirnya tangan itu bertemu dengan bukit kembar nan sintal.

Arthur menelusup, dan memasukkan tangannya ke balik kain berbentuk kacamata yang menyangga gunung kembar di dada Maya. Jemari Arthur menemukan bulatan kecil yang masih belum begitu terbentuk di dalam sana. Dia memainkan, dan memelintir bola kecil di pucuk bukit kembar itu dengan gemas, sesekali dia membuat pijatan yg membuat jantung Maya berdetak tak karuan. Pijatan Arthur di bukit sintal miliknya, mampu membuat sekujur tubuh Maya meremang, dan panas dingin.

Maya tidak tinggal diam, dia tidak bisa menahan hasrat yang kini juga sudah mulai menuntut dirinya melakukan sesuatu hal yang lebih. Tangan Maya bermain-main di sekitaran roti sobek yang kini berada di atasnya, saat tangan Maya menyentuh bulatan daging kecil di dada Arthur, Maya tertarik untuk memainkannya seperti yang dilakukan Arthur pada dirinya saat ini.

Puas bermain-main disana, Maya beralih memainkan tombak pusaka yang sudah mengeras di balik celana Arthur. Maya meremas onggokan daging berbentuk sosis yang sudah mengeras itu dari balik kain yang menutupinya. Sedangkan Arthur kini beralih posisi, yang tadinya hanya menjelajah bukit kembar dengan jemarinya, sekarang sudah menjelajahi bukit itu dengan bibir dan lidahnya.

Arthur menyesap kedua bukit itu dengan sangat rakus, beberapa tanda kepemilikan dia bubuhkan di sana.

"Mmm ... Aah" suara lenguhan keluar begitu saja dari mulut Maya ketika Arthur semakin menggila di bukit sintalnya.

"Yaaanghh" Maya mencengkram pelan rambut Arthur, saat Arthur menghisap, dan menjilati bulatan kecil di pucuk bukit sintal miliknya.

"Hmmm," Arthur terus bermain di antara dua bukit kembar itu dengan bergantian.

Jantung mereka bekerja lebih cepat dari yang biasanya, kini mereka kembali saling memagut, dan bertukar saliva. Lidah mereka pun berdansa di dalam rongganya. Sekarang, Arthur, dan Maya benar-benar sudah di mabuk hasrat dalam diri mereka. Pemanasan yang berawal dari kelembutan, sekarang sudah penuh nafsu. Mereka saling tuntut satu sama lainnya untuk mendapatkan hal yang lebih memuaskan.

Maya mendorong tubuh Arthur sampai Arthur tidur telentang di atas ranjang. Sekarang, posisi Maya berada di atas Arthur dengan bibir yang kembali menyatu. Arthur yang berada di bawah kungkungan istrinya, dia merasa seakan lagi dapat jackpot dalam permainannya. Birahi Arthur seperti sedang disiram air telaga. Tangan Maya yang lincah, di tambah goyangan puting beliungnya di atas pusaka Arthur membuat Arthur benar-benar gila di bawah dirinya. Walaupun Maya bergoyang tanpa membuka kain penutup dirinya, dan Arthur. Tapi, Arthur bisa merasakan sensasi yang sangat luar biasa untuk dia nikmati. Si tombak pusaka semakin mengeras, dan memberontak ingin di lepaskan dari dalam celana Arthur yang menutupinya.

Maya membuka kancing kemeja Arthur satu per satu. Sehingga menampakkan roti sobek milik suaminya. Mata Maya tertuju pada bulatan coklat muda di dada sang suami. Dengan Mata berbinar, Maya memainkan dua bulatan kecil itu. Dia memelintirnya pelan, dan sedikit menariknya lembut. Tidak puas dengan memelintir, dan menariknya, Maya menghisap bulatan kecil itu sangat rakus, dengan tangan yang terus memainkan gundukan daging berbentuk sosis dari balik celana Arthur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED