Bab 2

KERUMUNAN orang mengombak di pusat kelab, rata-rata pria pemabuk. Mereka terbuai oleh kehangatan meledak-ledak dan pemandangan sedap mata di atas meja bulat. Ada tiga penari striptis bergelayut luwes dan berekspresi manja, mengundang lautan tangan kukuh berlomba-lomba ingin merasai tubuh molek mereka—tentu saja sia-sia karena ketiga penari itu berlindung di bawah peraturan kelab.

Kuhentikan putaran gelas sampanye di tangan, meneguk tuntas anggurku tanpa beralih atensi dari pusat kelab. Lalu di luar kesadaran, aku meloloskan kekehan. Ah, penantianku datang juga. Saat itu juga, aku menegakkan punggung polosku di sandaran kursi bar. Antusiasmeku bergolak hangat. Kuamati keempat kawanku baru saja berhasil menerobos kerumun terdepan. Calis diseret paksa ke atas meja.

Gadis cupu berbusana kolot, primitif, atau apalah itu, menangis sejadi-jadinya saat keempat kawanku berbaur kembali dengan kerumun. Ia berakhir seorang diri. Lautan tangan pria pemabuk itu mulai menjangkau kaos kumal si cupu, merobek paksa kain-kain tipis tersebut hingga pundak Calis dan beberapa daerah tubuh polosnya timbul dengan malu-malu.

Para pemabuk cerdas dalam memanfaatkan situasi—mengingat penari-penari striptis tidak bisa dijamah, tetapi di lain sisi, si cupu bisa dan kenapa tidak?

“Menikmati sekali, duh?” Meagan datang dari arah kerumun. Antusiasme gadis bersurai ombre biru-perak itu melebihiku, mengingat ia terjun langsung bersama Lakisha, Janette, dan Irene untuk memberi pelajaran kepada si cupu. Memalingkan muka sepintas ke arah bartender, Meagan mengangkat tangan kanan dan berteriak, “Satu gelas anggur, terima kasih!”

“Dua, tolong!” timpalku, menerima acungan ibu jari dari sang bartender. Kemudian, aku mulai tertawa dan setengah berteriak kepada Meagan, “Hell, tentu saja aku sangat menikmati pemandangan itu. Si cupu pantas mendapatkannya.”

“Yeah, katakan ‘tidak’ untuk perebut pria orang!” pekiknya, mengacungkan jari tengah tinggi-tinggi ke atap kelab. “Kaulihat, Ysee, si cupu gemetaran sekali. Haha, rasakan akibatnya!”

Bibir ranumku melontarkan dengkusan, hampir menyeringai. Aku mengurungkan niat untuk itu saat si bartender datang dengan mengusung dua gelas sampanye. Jemariku cepat-cepat merampas salah satu gelas, begitu juga Meagan. Kami sama-sama menumpas habis anggurnya dalam sekali tegukan. Aku tergelak kuat, merasakan alkohol-alkohol di lambungku bercokol. Sisa cairan yang sempat mengalir di kerongkongan terasa begitu menghangatkan.

“Sekarang apa?” tanyaku, mulai merasakan pening. Jadi, aku segera meremas batang hidungku keras-keras dan menambahkan, “Mabuk sampai pagi buta?”

“Kurasa tidak.” Meagan menginstruksikanku melalui netra biru lautnya, tidak bisa menahan tawa keras. “Lihat Lakisha. Ia datang dengan memikul dua karung beras.”

“Uh, teler sekali kawan-kawanmu itu,” kelakarku, menikmati kesulitan Lakisha ketika ia perlu merangkul Janette dan Irene yang mabuk. “Bantu mereka sana—langsung antar ke mobil saja. Bill on me, aku sedang berbaik hati hari ini.”

“Woah, kawanku memang.” Cup! Meagan cengar-cengir begitu mendaratkan kecupan memuakkan di permukaan pipiku. “Aku duluan!”

Aku menggulirkan netra hitamku, sedikit bergidik dan merasa kotor oleh sikap menjijikkan Meagan. Kutatap lambaian tangannya selagi kawanku satu itu mendatangi Lakisha. Ia mengambil alih tubuh Irene di rangkulan kanan Lakisha—seketika aku gagal menahan tawa. Bagaimana tidak, wajah teler Janette dan Irene sungguh menggelitikku.

Semestinya aku tidak meninggalkan ponsel di mobil, sehingga aku bisa mengabadikan potret jelek mereka.

Penampakan keempat gadis bertubuh molek dan berbusana terbuka itu sudah tidak lagi terjangkau oleh visualku, mereka mungkin sudah keluar dari pintu kelab. Akhirnya, aku merogoh tas kecil yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi, mengeluarkan beberapa lembar pecahan seratus ke atas meja.

Si bartender pria mendatangiku dan merangkul pinggangku yang terbatasi meja bar, sementara aku memeluk singkat tubuh gagah berbalut kemeja hitam itu dan mendaratkan kecupan ringan di pelipisnya. Selanjutnya, kami sama-sama melepaskan diri untuk kembali ke aktivitas masing-masing—ia dengan profesinya dan aku dengan keinginan untuk kembali.

Tetapi, tiba-tiba aku teringat dengan Calis. Harusnya aku tidak perlu memedulikan si cupu yang sudah merebut kekasih Irene, namun aku tetap membawa kakiku menuju pusat kelab malam. Calis masih berjongkok di atas meja. Kaosnya tidak lagi berbentuk, menampakkan sebagian besar pakaian dalam hijau tuanya.

Uh, selera warnanya begitu buruk, batinku, tertawa pelan saat netra memelas Calis menemuiku. “Mau pulang?” tanyaku, melipat tangan di depan dada selagi memainkan sepasang alisku naik dan turun. “Atau sudah terbuai dengan kenikmatan dunia malam ini?”

Ia mengabaikan pertanyaanku, lebih tepatnya teralih, sebab tangan-tangan pria pemabuk kian meliar di tengah dentuman musik yang semakin panas. Calis berkelit, mungkin mulanya berhasil, tetapi para pria—apalagi sedang mabuk—memiliki seribu satu cara untuk merasakan kepuasan saat meraba kulit mulus para gadis perawan. Sampai akhirnya, aku menawarkan uluran tangan ke hadapan Calis.

Ia ragu-ragu mencoba untuk menerima uluran tanganku. Terlalu lama, pikirku. Gerak lambannya membuatku tergugah menangkap lengan Calis. Otomatis ia hilang keseimbangan dan menggelepar di atas meja bulat, itu memudahkan lautan tangan pria untuk meraba kulit polosnya. Aku menggulirkan netra, semakin dibuat kesal karena Calis hanya diam saja. Apakah si cupu ini sudah menikmati betul?

“Y-Ysee," gumam Calis, menatapku dengan binar yang tidak kumengerti. “B-Bantu aku ….”

Satu alisku tertarik naik. “Kau tinggal berdiri kemari. Apa sulitnya?” tanyaku, jengkel. “Jangan bersikap infantil. Dunia di luar sana lebih kejam dari ini, Chalistia Zidney.”

Lengan kanan Calis terulur ke hadapanku. “J-Jika aku berdiri, m-mereka akan … memegangku,” ucapnya, menggunakan raut memelas seperti anjing.

Kulukis senyum miring di bibir ranumku. Ah, gadis cupu ini betul-betul membuatku ingin tertawa keras-keras. “Kau bahkan tidak pernah merasakan lebih dari ini,” balasku, ironisnya jauh lebih pelan dan ada secuil gemetar di sana. “Jangan berlebihan. Sekarang turun—atau kutinggal kau bersama pria-pria berhidung belang di sini.”

“J-Jangan! A-Aku turun sekarang!”

Calis panik bukan kepalang. Tanpa mengangkat tubuhnya, ia mulai merangkak secara memprihatinkan di permukaan meja bulat. Aku menanti dengan sabar, menikmati air muka ketakutan yang menghiasi paras cupu Calis. Ada sedikit kepuasan—ah, tidak sedikit, cukup banyak kepuasan setiap kali melihat mereka, para korban perundunganku dan kawan-kawanku, seperti sekarang.

Atas satu dan lain hal, aku berakhir menjadi seorang gadis tanpa hati. Begitu juga dengan Meagan, Lakisha, Janette, dan Irene. Kami lima sekawan yang pernah dibuat hancur oleh dunia, kemudian kami berhasil bangkit untuk menjadi bagian dari kehancuran itu. Kendati lebih banyak mengamati, aku tetap sama brutalnya dengan keempat kawanku.

Jadi, ketika Calis hampir mendekati sisiku, kutarik paksa tangannya hingga ia jatuh terjengkang ke dasar lantai. Aku segera bertelut, meraih dagunya untuk menahan tatapan kami. Calis menatapku dengan amarah tak terkatakan. Aku tahu karena aku juga pernah melakukan hal yang sama. Lalu, apa yang kudapat? Sebuah tamparan.

Oleh karena itu, segera kutampar pipinya keras-keras sampai ia terhuyung membentur sisi meja. Calis memegang bekas tamparanku, menatapku dengan netra berkaca-kaca. Tidak ada lagi kemarahan, tetapi lebih parah lagi, ia menatapku penuh kebencian.

“Aku bersumpah, neraka menantimu dan kawan-kawanmu, Ysee!”

“Beraninya kau—argh!”

Baru aku menggantungkan tangan di udara, bersiap menampar si cupu pemberani itu kembali, kemunculan tiba-tiba sebuah denging memaksaku berhenti. Suaranya pekak sekali. Jika terus berlanjut, indra pendengarku akan berakhir tuli. Kututup erat-erat netra hitamku, juga telingaku dengan kedua tangan. Aku ingin berteriak mengumpat, namun aku seakan-akan lupa cara untuk bersuara.

Denging itu semakin menjadi-jadi. Ingar bingar kelab malam tergantikan oleh resonansi tinggi. Hingga kurasakan bogem mentah mendarat ke tulang tengkorakku bertalu-talu. Ruangan penuh kelap-kelip warna dari bola disko terasa berotasi tanpa henti, menjungkirbalikkan tubuhku seratus delapan puluh derajat.

Tidak ada gravitasi sama sekali. Itu berlangsung cukup lama. Visualku mengabur seiring tubuhku mulai berserah diri. Persetan dengan neraka ketika alur hidupku sendiri sudah seperti berada dalam jahanam itu. Batinku mulai mengukir senyum pilu. Aku menanti ketibaanku di dalam sana.

Ya, aku sungguh menantinya ….

*

Sengatan kuat dan begitu panas membuat netra hitamku terekspos sempurna. Melupakan sementara rasa sakit itu, bibirku mengap-mengap untuk meraup kandungan oksigen yang merebak. Pasokan paru-paruku terasa habis dari udara. Aku mengangkat tangan kanan, meremas dadaku sekuat mungkin agar mereka berhasil kudapatkan kembali.

Ketika deru napasku mulai teratur, aku baru membuka pandanganku yang rupanya masih mengabur. Dan visualku terkuasai oleh eksistensi sepasang kaki di depanku tersimpuh. Aku menaikkan tatapan ke depan, mendongak sampai leherku hampir patah karena perawakan dari si pemilik kaki tinggi bukan main. Lalu, akhirnya kutemukan dua netra berwarna sama dengan milikku.

Tanpa kusadari, tahu-tahu saja aku sudah membuka mulut dan ingin menjatuhkan rahang. Bila benar ini adalah neraka, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah menanam perbuatan buruk selama aku hidup!

Aku meneguk liur sembari mengamati paras rupawan si pria ini. Garis rahangnya asertif bukan main, hidung bangirnya terpahat dengan begitu sempurna, bibirnya merah alami—tidak terlalu tipis dan tidak juga tebal, kerapian alisnya jangan ditanya. Aku perlu setidaknya lima belas menit untuk merapikan sepasang alisku dengan sisir alis.

Sialan, jantungku tidak aman jika aku melihatnya lebih lama. Belum lagi, surai hitamnya dibiarkan awut-awutan seperti itu membuat jemariku gatal ingin memainkannya.

Uh, sadarlah tempatmu sekarang, Ysee! ingatku kepada diri sendiri. “Siapa kau?” Itu kalimat pertama yang berhasil kulontarkan dan air mukanya menatapku aneh—juga remeh. Apa-apaan pria jelek itu?!

Belum juga aku mendengar suara maskulin, atau mungkin cempreng—mengingat dalam kekurangan pasti ada kelebihan, tiba-tiba empat tangan meringkusku dari belakang. Aku mencoba untuk menoleh ke balik pundak, tetapi lidahku sudah lebih dulu mendesis ketika sengatan kuat itu kembali dan menggerayangi pergelangan kaki kananku.

Aku memelotot lebar tepat kepalaku menunduk. Ketumbar Busuk! Kenapa ada anak panah menancap di kakiku?! batinku berteriak kencang. “Berengsek! Setidaknya lepaskan dulu anak panah ini sebelum membekukku!”

Kutatap sewot pria rupawan berhati sadis yang masih setia berdiri di depanku. Ia semakin menatapku aneh dan aku balas menatapnya tidak kalah aneh. Ia memutuskan kontak setelah menghela napas dan menoleh ke balik pundaknya. Pria itu tampak berbicara sepatah dua kata ke salah satu pria—beratribut zirah besi? Tanpa sadar, aku mengerutkan kening.

Segera kuedarkan pandanganku sejauh yang bisa kujangkau karena tubuhku masih tercekal kuat-kuat oleh dua orang di belakang.

Menyelisik lebih jauh ke balik pundak si pria rupawan, ada sebuah gerbang dengan dua menara kecil di sisi kanan dan kiri. Gerbang bersadur obsidian itu dalam posisi terekspos lebar, tetapi tidak sampai habis karena aku masih dapat melihat cuatan pagar hitamnya.

Semakin jauh lagi, sebuah bangunan lebar bukan main dan menjulang kukuh—kurasa terdiri atas empat tingkat—penuh dengan jendela kotak yang berderet apik. Bagian tengah bangunan, atapnya paling lancip dibandingkan yang lain. Ada juga pintu, sayangnya tidak dapat terjangkau oleh visualku karena terhalau oleh pundak tegap si pria.

Belum puas menggeser penglihatanku ke bagian lain dan memenuhi rasa keingintahuanku, dua orang di belakang tahu-tahu saja sudah menyeret tubuhku dengan brutal. “Argh! Kakiku sakit, berengsek!" seruku, bergelayutan lasak di udara agar mereka menurunkanku saat itu juga, tetapi tidak mempan. “Astaga, kukutuk kalian—terutama kau—menjadi pria jelek!”

Kami lagi-lagi saling bertukar tatapan ketika dua orang yang masih kugelayuti ini melintasi pria itu. Aku ingin mengacungkan jari tengah, tetapi akhirnya kuurungkan niat itu dengan memfokuskan diri pada rasa sakit di pergelangan kaki. Inikah rasanya menjadi lumpuh? pikirku, mendengus pelan. Kedengaran jauh lebih baik daripada kehilangan nuraniku itu.

Tatapanku lurus ke depan. Dua orang itu mengusungku seperti membawakan belanjaan para wanitanya, begitu enteng. Seingatku, aku tidak seringan itu. Ah, sudahlah. Lebih baik kutinjau kembali di mana aku sekarang.

Terakhir kali, aku berada di kelab malam, bermain-main sebentar dengan korban perundunganku dan kawan-kawanku. Hingga aku hampir berakhir tuli karena mendengar denging yang pekak tepat ia mengutukku—dan voilà! Di sinilah aku berada, dunia antah-berantah, bertemu pria dengan ketampanan tiada tara.

Ini tidak masuk akal. Kurasa aku memang sudah tidak lagi waras. Orang mana yang bisa berpindah tempat secepat kilat? Dari kelab malam ke bangunan yang luasnya menandingi jidat Sir Urel—profesorku di kampus. Cuman aku, Chryssant Elettra, gadis gila yang hidupnya selalu dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih gila. Lucu sekali nasibmu, Ysee malang.

Setelah melalui keluk demi keluk yang mustahil aku hafal dengan kapasitas memori pendekku ini, tibalah aku bersama kedua orang itu di depan sebuah lorong. Aku menjatuhkan kakiku ke permukaan lantai usai bergelantungan seperti primata. Kerutan di keningku kembali muncul. Ah, aku lumpuh sungguhan—sekarang saja kakiku sudah mati rasa, seperti tidak lagi bersatu dengan Bumi.

Hm … itupun jika aku saat ini memang bukan berada di Bumi.

Seakan-akan menyadari kelumpuhan kakiku, dua orang itu—yang baru kusadari beratribut zirah juga—dengan cerdasnya tetap membiarkan tangan kekar berhiaskan urat-urat biru mereka menyeretku turun ke bawah. Entah ke mana undakan pada lorong corong itu mengusungku pergi. Saking gelapnya, aku sempat berpikir kelumpuhan itu juga terjadi kepada netra hitamku.

Obor kaca yang di dalamnya terdapat lampu listrik mini mulai menyala satu demi satu. Aku sedikit merasa lega karena setidaknya aku tidak buta. Pantulan obor merefleksikan bayangan sinar di dinding. Dengan itu, aku dapat melihat jelas ke mana lorong itu mengarah seiring dengan turunnya aku dari undakan. Hingga aku melihat deretan sel bertepatan kami tiba di dasar.

Sebagian besar sel itu kosong sampai suara raungan dan denting besi beradu tepat di sisi kananku. Itu berasal dari seorang pemuda dengan netra membelalak ketakutan. Urat merah di bola mata bagian putihnya tampak mengerikan. Bibir ranumku ingin meloloskan jeritan, tetapi segera kembali kukatupkan saat suara maskulin di belakangku terdengar.

“Tidak mau bertegur sapa atau berbagi rindu dengan alat suku kebanggaanmu, Rysa?”

Hah? Alih-alih menjeritkan kengerian karena bola mata seram pemuda itu, aku malah tidak jadi takut. Kualihkan atensi dari pemuda di sel dan melongok ke balik pundakku.

Terdiam cukup lama, akhirnya aku hanya bisa berkata, “Oh, aku baru sadar pria jelek masih mengikutiku sampai kemari.”[]

Bab 3

“CIH. Pemaksaan.”

Gugahanku untuk menggiling muka si pria rupawan itu menjadi kertas dan memampangkannya luas-luas di dinding kamar begitu besar.  Pria yang baru saja kutahu namanya sebagai Remus Valez, secuil pun tidak sudi menaruh kepercayaan dalam setiap kata yang kututurkan. Ia menuduhku sebagai penggerak utama suku apalah-itu-namanya, bahkan berhasil mengintimidasiku dengan sebuah anak panah runcing di tangan.

“Masih tidak mau jujur?” tanyanya, untuk sekian ratus kali.

Keningku mengerut tidak senang. Ingin rasanya, selain menggiling muka tampan pria itu, aku juga tergugah berat untuk mengebiri lidahnya—menjual di pelelangan seharga miliaran dolar. Sungguh, aku hampir muak menghadapi pria jelek satu ini jika bukan karena tampangnya melampaui ketampanan aktor papan atas.

Lihat saja, satu alis rapinya tertarik naik secara mengesalkan, belum lagi terselip nada menantang setiap kali ia berbicara dengan suara maskulin itu.

“Aku mengatakan sebenarnya, pria jelek!”

Kukedipkan netra hitamku yang terasa panas bukan main—hampir berair, malah. Uh, aku tidak bisa menahan pelototanku lebih lama, tetapi aku tidak sudi kalah. Kami memang sudah berperang tatap semenjak aku diseret masuk oleh dua prajuritnya ke dalam sel paling ujung dan terasing. Aku sengaja memantapkan pertahanan sorotku seperti tiang kukuh, berjuang meyakinkan pria itu bila aku tidak tahu-menahu tentang apa pun; penggerak utama, suku, keberadaanku saat ini, dan lain-lain.

Aku terdampar, sama sekali tidak memiliki ide untuk semua hal aneh itu.

“Kau betul-betul menghabiskan waktuku, Chryssant.”

Remus menegakkan punggung dari sandaran dinding bebatuan, berhenti memainkan anak panah semudah memutari bolpoin. Lampu obor menggantung persis di samping kepala Remus, cukup membuat ketajaman netra hitamnya tampak mencolok. Pada permukaan dinding, siluet pria itu terlihat berayun-ayun.

Entah mengapa, sorotan dari obor membuat perawakan gagahnya sedikit lebih mengerikan bagi indra penglihatku.

“Mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa menggunakan cara kasar untuk membuatmu membuka mulut.” Remus menginstruksikan sesuatu melalui gerakan bibir ke samping kanan. Ia berbicara dengan udara kosong? Atau makhluk halus? Pria itu indigo? Impresif sekali.

Tolong tandai sarkasmenya.

Aku masih sempat membulatkan bibir ranumku begitu seorang prajuritnya—yang tidak terjangkau oleh pandanganku tadi, memelesat ke depan pagar besi sel dan menggeser pintunya. Namun, belum sampai lima detik, kututup bibirku dan menggantikannya dengan pelototan lebar. Ia memutari tempatku tersimpuh karena kakiku masih lumpuh, seenaknya berdiri di belakangku dan meringkus kedua tanganku.

Lancang! 

Karena kesal, aku mencitrakan acungan jari tengah di dalam benakku selagi menyoroti Remus. Afek datarnya tidak sedikit pun melunak begitu ia memasuki sel dan berdiri tepat di depanku. Tidak lama, Remus menekukkan satu kakinya ke bawah. Ia bertelut tanpa melepaskan tatapan kami. Aku juga tetap mempertahankan pelototan, kekesalanku terasa memuncak.

Kamus perbendaharaan kata yang terpatri sangat indah dalam memori jangka panjangku baru ingin kuteruskan dari bibir, tetapi semua terkubur begitu saja ketika suara baret merangsek ke telinga. Aku berani taruhan, kilat keberanian netraku langsung meredup dalam kecepatan cahaya.

Jemari itu mengukir ujung anak panah ke pipiku, tidak cukup dalam untuk menciptakan pedih, namun lebih dari cukup untuk membangkitkan perasaan lama yang telah kukubur sampai mampus. Suatu perasaan yang tidak sudi kuakui secara pribadi, tetapi tidak dapat kutolak jika itu sudah hadir dalam bentuk memori.

Ingatan yang telah kutekan mati-matian sampai ke alam bawah sadarku, kembali naik dengan begitu entengnya hanya berbekal satu buah goresan di sana. Mereka mengerubungi otakku kembali, menutup akses oksigen menyebar dan memasuki daerah kepalaku. Sepintas, di balik pandangan mengaburku, kutemukan refleksi diriku bersama dia di dalam sepasang manik hitam itu.

Tatapanku hampa, kesadaranku hampir habis tak bersisa. Sampai tremor itu datang dan mengingatkanku kembali kepada Ysee yang malang.

*

Pengap. Tidak ada angin … dan bau apak. Aroma yang jauh dari kata sedap, tetapi aku berhasil menebak bila tempatku saat ini masih sama seperti tadi; sel bawah tanah. Bedanya, ada rasa dingin menggerayangi pergelangan kaki kananku yang sempat terluka. Kepalaku cukup berat bagaikan habis dihantam tamparan pahitnya kehidupan.

Perlu cukup lama bagi otakku memerintahkan netraku untuk membuka dan ketika itu berhasil, kudapati tubuhku bersandar di dinding sel dengan kehadiran seorang pemuda sepantarku di depanku. Ia tengah membebat kakiku dengan perban. Otakku lekas  mengirimkan sinyal bahaya, aku spontan menekukkan kaki kanan. Mulanya sedikit terkagum karena aku tidak jadi lumpuh, tetapi kekaguman itu lekas raib mendapati si pemuda berhasil menahanku dengan satu tangan.

Sekitar satu senti lagi sebelum ibu jari kakiku persis menyentuh tulang hidung bangirnya.

Kami bertatapan sesaat dan aku masih belum melucutkan kewaspadaan. Lalu, dengkusan terdengar dari arah si pemuda. Ia baru melepaskanku begitu aku menarik jauh tungkaiku, meluruskannya lagi di bidang datar lantai sel.

“Siapa kau?” tanyaku, melipat tangan di depan dada, sebisa mungkin melemparkan tatapan paling mengintimidasi yang pernah kutunjukkan kepada siapa pun. “Di mana pria jelek dan berengsek itu?”

“Pria jelek dan berengsek?”

“Ya, si Remus-Remus itu!” teriakku, terlalu menggebu-gebu, namun aku tidak acuh. Kalau bisa, sekalian saja kujeritkan betapa jelek dan berengseknya pria itu sampai ke atom-atom tubuh gagahnya. “Katakan kepada dia, aku akan menguliti setiap inci dari tubuhnya, termasuk aset berharganya!”

Pemuda di depanku mengerutkan keningnya, sedikit bergidik mendengar penuturanku. Ia mendeham sekilas dan menyibukkan diri sebentar untuk menggulung sisa perban yang tidak terpakai. Lalu, ketika selesai, ia mulai angkat bicara, “Kau ingin mati di tangan Putra Mahkota, ya?”

“Putra Mahkota?” ulangku, terdiam sebentar dengan hidung kempas-kempis—kemudian bersin. Sungguh, tidak adakah penyaring debu di sekitaran sel sini?

“Kenapa penggerak utama sepertimu bisa bertingkah semenjijikkan itu?”

“Siapa Putra Mahkota?” selatku, tidak berniat menanggapi pertanyaan si pemuda asing tersebut. “Dan, hell! Aku bukan penggerak utama suku-suku apalah itu, dungu!”

“Putra Mahkota—Remus Valez. Siapa lagi memang?”

Hah? Remus-Remus itu? Putra Mahkota? Keterkejutanku berganti menjadi gelak tawa, sampai-sampai aku memegang perutku yang terasa menggelitik bukan main. Ekor netraku bahkan mengeluarkan setitik air mata. Mengusapnya sejenak, aku kembali mendaratkan pandangan menuju si pemuda dengan rasa humor menggelikan itu.

Kutemukan bibirnya melengkung ke bawah dan membuatnya sedikit terlihat menggemaskan.

“Hah … kurasa sangat percuma berbicara dengan makhluk sinting sepertimu.” Pemuda itu menaikkan tatapan datarnya, kemudian meneruskan, “Aku Stuart, omong-omong. Kurasa tugasku untuk membereskan luka kakimu sudah selesai. Ada lagi yang kauinginkan?”

“Tentu ada.” Aku menegakkan tubuhku dari sandaran, mencondongkan kepala di dekat pemuda bernama Stuart itu. “Manis, bawa aku keluar dari sini.”

Stuart berdecak kesal. “Baru kali ini aku dianggap manis alih-alih tampan, cih.” Ia berpura-pura meludah, melengos tepat aku menarik kerah kemeja putihnya untuk menahan tatapan kami. “Jangan harap kau bisa pergi dari sel ini, Nona,” imbuhnya.

Wah, cara ia mengucapkan kata 'Nona' sungguh sarat akan ejekan.

Aku menggulirkan netraku, mengentakkan kerahnya ke belakang, berharap ia akan jatuh terjengkang, tetapi keseimbangannya lumayan. Stuart mendengkus selagi merapikan kemejanya—kemudian tatapanku jatuh kepada semacam lambang berbentuk 'tambah', mengingatkanku tentang statistika dan pelajaran menghitung lainnya di kampus.

Tetapi, tentu saja aku tidak bodoh untuk tidak mengetahui bila itu bukan lambang hitungan, melainkan lambang medis.

“Kau lapar?” tanya Stuart, bersiap untuk berdiri setelah kami diliputi oleh keheningan. “Lapar atau tidak, Yang Mulia sudah menyiapkan hidangan untukmu. Mungkin sebentar lagi seorang pelayan akan da—itu dia.”

Aku menggeser tatapan ke balik tubuh Stuart yang sudah menjulang di depanku, menuju seorang gadis berbusana seperti pelayan kafe di dekat kampusku. Ia mengenakan bando berenda putih yang terbuat dari satin, serta terusan hitam dengan celemek putih yang sama panjangnya, menjuntai hampir mencapai tempurung lutut.

Ada nampan berisikan kudapan yang tidak kutahu apa karena tak terjangkau oleh netraku, tetapi aromanya jelas lebih sedap dari pengapnya sel sekitar sini.

Stuart menggeser pintu sel, menerima nampan itu dari tangan si pelayan dan ia letakkan cukup jauh dariku—mungkin takut jika aku akan melakukan hal nekat, seperti menerobos sel dan melarikan diri, misalnya. Sayang sekali, dungu-dungu begini, aku seorang pemikir rasional dan berorientasi kedepan. Berhasil bebas dari sel ini sama sekali tidak menutup kemungkinan kalau aku akan berakhir dibunuh oleh anak panah sompret milik si pria jelek.

Aku melipat kedua lututku ke depan dada, bertopang dagu malas begitu Stuart undur diri bersama si pelayan. Tanpa tergiur oleh keberadaan nampan di dekat pintu sel, aku tidak menyentuh kudapan itu hingga malam tiba—yah, sepertinya malam karena aku sudah mulai mengantuk—dan yang tidak kutunggu-tunggu pun datang. Pemilik manik hitam itu menurunkan pandangan ke arah nampan, mengerutkan kening begitu kami berperang tatap lagi.

Tidak sedang dalam fase untuk itu, aku tidak ragu memutuskan kontak mata. Rasa kantuk yang menyergap mengendurkan pertahanan netraku untuk tetap dibuka. Aku siap memasuki alam bawah sadarku dengan terlelap, sampai suara maskulin Remus menahanku dengan sebuah kalimat yang kembali mengeritingkan otak.

“Jika kau tidak mengatakan kejujuran, aku akan membuatmu berakhir lebih dari sesak dan kejang-kejang tadi, Chryssant.”

Aku mengetukkan kepala belakangku di dinding sel, mengabaikan suara gedebuk yang sedikit banyak membuatku ketagihan. Bibir ranumku meloloskan tawa—tawa terpahit yang pernah kulontarkan kepada siapa pun. Mengusap kasar wajahku, aku mempertahankan dua telapak tanganku tetap di sana. Entah dampak dari rasa kantuk atau aku memang kembali menangis, aku tidak peduli.

Dari sela jemariku, bisa kulihat netranya memancang lurus kepadaku. Aku bisa menangkap sorot keheranan yang sangat kental di binar manik hitamnya.

“Berikan aku waktu untuk tidur,” gumamku, masih terdengar jelas meski teredam oleh telapak tangan. “Jika kau memang tidak memercayaiku, setidaknya tolong lebih sadar dengan situasi, Putra Mahkota Yang Terhormat.”

Bila bukan karena kejadian tadi, aku akan dengan senang hati bersilat lidah dengan pria yang katanya, sih, ‘Putra Mahkota’ itu. Tetapi, tidak sekarang. Kehadirannya cukup memicu ingatan itu kembali dan butuh waktu tidak singkat bagiku memulihkan diri. Kutarik napas dalam-dalam, menurunkan kedua tanganku dari wajah, dan meluruskan tatapan kepadanya seorang.

“Besok,” kataku, tiba-tiba. “Besok, kau bisa menginterogasiku sepuasnya … dan bunuh aku jika perlu.”

Kupelankan nada bicaraku di bagian akhir kalimat. Namun, menilik dari reaksi pria itu—yang sepintas tertangkap oleh indra penglihatku, ia mendengarnya. Kabar baiknya, Remus patuh. Ia tidak berusaha untuk kembali mengeritingkan otakku dan mencincangnya sampai tak berbentuk. Alih-alih, ia mulai beringsut dari jangkauan netraku dan menyisir jalan depan sel yang sempat kulintasi sebelum berakhir di sini.

Mungkin ia hendak kembali ke tempat persinggahannya, siapa yang peduli?

Sedikit merasa lega, akhirnya kurapatkan netra kembali—sebelum derap langkah menjauh Remus tergantikan oleh suara maskulinnya, merangsek kembali ke telinga. “Isi perutmu, aku tidak ingin kau mati sebelum membuka mulutmu.”

Cih, semestinya aku sudah menduga sikap menjengkelkan pria jelek itu tidak akan raib begitu saja.

Berusaha meredamkan kekesalan, lambat laun alam bawah sadarku menarik paksa kesadaran hingga aku jatuh terlelap. Dan ketika pagi sudah datang, siapa sangka bila pria itu tahu-tahu saja telah berdiri tepat di depan mata?

Apa-apaan dia? “Kau sungguh tidak sabaran!”

Aku hampir melayangkan satu tamparan ke arah pipinya, tetapi sebelum itu mendarat, tangannya dengan cekatan menahanku. Tanpa kuduga-duga, ia meremas kuat ruas-ruas jemariku sampai aku bisa mendengar gemeretak tulang yang tersusun atas beruas-ruas. Aku spontan mengaduh, mencoba untuk membebaskan tangan kananku dari sana sebelum berakhir remuk.

Remus tidak memedulikan sama sekali, sorotnya jauh lebih dingin dan sadis.

“Aku sudah mencoba bersabar dari kemarin, Chryssant,” ucapnya, entah mengapa berhasil mengaktifkan reseptorku. Roma halusku bergidik ketika wajahnya begitu dekat dan embusan napas menyapu halus milikku. Kesempurnaan yang sempat kukagumi seketika berubah mematikan. “Sekarang, jawab dengan jujur. Apa motif sukumu mengusik kontinenku?”

“Aku tidak tahu!” teriakku, meneguk liur susah payah mendapati pria itu membuatku tersudut. 

Remus menekan punggung tangan kananku ke dinding. Di luar kesadaranku, tangan kiriku juga telah dikunci rapat-rapat di permukaan lantai oleh miliknya. Ia meremas tangan kananku sekali lagi, tanpa sadar netraku sudah berair. Perlu waktu bagiku menyadari satu tetes air sebesar biji jagung jatuh ke pipiku. Remus sadar karena ia langsung mendaratkan tatapan di sana.

Menghela napas kasar, ia segera menarik diri menjauh, memberikanku jarak untuk menenangkan diri. Tentu saja itu tidak mempan. Ketenangan macam apa yang bisa kudapatkan di tengah-tengah kepengapan, pemaksaan, dan penudingan tak berakal ini?

“Jika kau mencoba untuk memanipulasiku dengan air mata itu,” Remus mengintimidasiku lagi melalui kilat tajamnya, “aku juga bisa memanipulasimu lebih dari ini, Chryssant.”

“Aku bersumpah atas nama leluhurku, aku tidak.”

Di luar dugaan, Remus kian menajamkan indra penglihatnya. “Siapa nama leluhurmu?” tanyanya, disertai nada penuh ancaman.

Nama leluhurku? Aku mana tahu! batinku, bingung. Dengan nada skeptis, aku segera menjawab jujur, “Aku tidak hafal.”

Kala itu juga, Remus mengacak surai hitamnya hingga awut-awutan. Kentara sekali ia sudah kewalahan menghadapiku—sama lelahnya dengan aku yang perlu menghadapi si pria pengidap masalah kepercayaan akut itu. “Tabib, urus dia,” titahnya kepada udara kosong.

Keningku hampir berkerut, namun kedatangan seorang kakek berbusana serba putih tepat di depan sel membuatku berhasil menarik kesimpulan. Itu tabib yang sempat dimaksud oleh Remus tadi. Sepasang netra tabib itu mengilat ramah saat ia menjumpai milikku dari balik pagar besi sel. Remus ikut beralih dariku menuju si tabib, mengangguk singkat kepada kakek tua berjanggut putih itu sebelum beringsut keluar dari sel dan bersisian dengan si tabib.

Bisa kubayangkan betapa masamnya parasku sekarang. Keduanya sama-sama menjatuhkan tatapan kepadaku, bagaikan aku barang antik saja. Tabib itu tampak mengarahkan telapak tangan dari kejauhan, mengingatkanku dengan kegiatan eksorsis. Jangan sampai mereka berpikir kalau aku sedang kerasukan.

Jika iya, aku akan betul-betul menggiling wajah Remus menjadi kertas dan kujadikan sebagai tempelan di dinding kamar—atau keset kaki juga lumayan.

“Yang Mulia, berdasarkan hasil terawang saya, tubuh itu memang milik Chryssant Elettra, si penggerak utama suku Ace. Tetapi, yang menempati tubuhnya saat ini, bukanlah jiwa aslinya—melainkan jiwa dari makhluk lain.”

“Hah?” Sepertinya mereka betul-betul mengira aku kerasukan setan! Tetapi … sebentar. Jiwa dari ‘makhluk’ lain, katanya?

.… berarti maksud tabib sompret itu, aku setannya?![]

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED