Bab 2

Carissa menggerutu sambil membawa setumpuk berkas dengan kedua tangannya. Kalau bukan karena permintaan sang Papa, Carissa tidak akan sudi magang di perusahaan Green Land Property Tbk., tempat Fachmi Aditama Effendi menjadi bosnya.

Menurut Carissa, tidak ada lelaki yang kelakuannya lebih bejat dari seorang Fachmi. Entah sudah berapa kali Carissa memergoki lelaki yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu berciuman dengan kekasihnya yang selalu berganti tiap hari. Dan Carissa semakin tidak menyukai Fachmi setelah tahu bahwa lelaki itu seorang pemberi harapan palsu. Sudah beberapa kali dia hendak bertunangan tapi mendadak dia membatalkannya tanpa alasan yang jelas. Bahkan Carissa pernah melihat sendiri seorang calon tunangan Fachmi berlutut di bawah kaki lelaki itu, memohon agar rencana pertunangan mereka tidak dibatalkan. Namun dengan tanpa perasaan, Fachmi menyuruh tim keamanannya menyeret wanita itu pergi.

Carissa menghela napas. Mengingat kelakuan Fachmi selalu membuat emosi Carissa memuncak. Akhirnya dia menggeleng pelan, mengenyahkan bayangan si bos, lalu bergegas menuju ruangan si tuan besar Fachmi untuk meminta tanda tangan.

Klek.

Susah payah Carissa membuka pintu karena kedua tangannya penuh. Begitu pintu terbuka, Carissa segera masuk.

"Sudah berapa kali kubilang, ketuk pintu dulu."

Sejenak Carissa tertegun mendapat teguran dari Fachmi yang sedang duduk di balik meja besarnya. Tapi lalu dia hanya mengangkat bahu, meneruskan langkah ke hadapan Fachmi lalu meletakkan tumpukan berkas dengan kasar di meja.

BRUKK.

Gerakan Fachmi yang tampak sedang menulis sesuatu berhenti. Dia mendongak, menatap tajam mata kecokelatan di hadapannya. "Jangan karena kau putri sahabat Papaku, aku akan mengistimewakan dirimu. Jadi, bersikaplah yang sopan padaku." Nada suara Fachmi terdengar dingin.

Ingin sekali Carissa mendengus kesal. Tapi dia menahan diri karena tidak ingin nilainya buruk. Dia bukannya tidak tahu cara bersikap sopan pada atasannya. Yang membuat Carissa tidak suka adalah fakta Fachmi ingin dirinya mengetuk pintu dulu sebelum masuk agar tidak memergoki si bos sinting itu saat sedang bermesraan dengan seseorang.

Ya, Carissa pernah memergokinya. Beberapa kali malah. Itu juga yang membuat Carissa semakin tidak ingin mengetuk pintu sebelum masuk. Biar saja semua orang tahu bagaimana kelakuan si tua mesum ini.

Carissa mencoba menampilkan senyum lalu menanggapi ucapan Fachmi tadi. "Iya, Pak. Maaf atas kelancangan saya."

"Kedengarannya kau tidak benar-benar menyesal."

Memang. "Saya benar-benar menyesal."

Salah satu alis Fachmi terangkat tidak percaya. "Baiklah, terserah."

"Kalau begitu saya permisi dulu."

"Tunggu!"

Carissa yang hendak berbalik, urung melakukannya. Dia kembali berdiri di depan meja Fachmi, menunggu apa yang akan dikatakan si bos.

Fachmi tidak langsung mengutarakan maksudnya. Dia meletakkan bolpoin di atas meja, lalu bersandar dengan nyaman di sandaran kursi, masih dengan tatapan lurus ke arah Carissa. "Apa kau tidak keberatan tinggal di apartemen?"

"Hah?"

"Kalau ada yang mengajakmu tinggal di apartemen, apa kau tidak keberatan?" Fachmi berusaha menyamarkan pertanyaannya.

Kening Carissa berkerut. Dia tidak paham mengapa Fachmi bertanya demikian tapi tetap berusaha menjawab. "Saya akan senang sekali. Sudah lama saya ingin tinggal di sebuah apartemen. Bahkan salah seorang teman pernah mengajak saya tinggal di apartemennya. Tapi Papa dan Mama melarang." Nada suara Carissa berubah kesal mengingat betapa orang tuanya overprotective padanya. Jangan begini, jangan begitu. Membuat Carissa merasa tertekan.

"Baguslah."

"Bagus?"

Fachmi mengabaikan pertanyaan Carissa dan bertanya hal lain. "Apa Papamu tidak mengatakan sesuatu padamu?"

"Mengatakan apa? Papa selalu banyak bicara, terutama mengenai larangan-larangan yang dia buat untuk saya." Bibir Carissa mengerucut kesal.

Fachmi tersenyum. Senyum manis yang entah mengapa membuat jantung Carissa berdetak lebih kencang dari biasa.

"Itu karena dia menyayangimu."

Carissa tidak langsung menanggapi. Perhatiannya masih tertuju pada bibir Fachmi yang memang jarang menampilkan senyum, selain senyum sinis atau mengejek. Lalu mendadak dia seperti tersadar.

Mengapa pembicaraan ini jadi terasa sangat pribadi? Padahal mereka berdua nyaris tidak pernah bicara selain urusan pekerjaan. Bahkan bisa dibilang, Carissa dan Fachmi tidak pernah berinteraksi secara langsung meski keduanya kerap kali bertemu mengingat betapa akrabnya orang tua mereka. Carissa hanya tahu Fachmi dari pengamatan jarak jauh dan cerita orang-orang sekitar. Begitu pula Fachmi, hanya tahu Carissa dari pengamatan dan cerita orang tuanya. Berbeda dengan Farrel, Carissa cukup akrab dengan adik kembar Fachmi itu. Dia bahkan tidak segan merengek jika menginginkan sesuatu dari Farrel karena sudah menganggap lelaki itu kakaknya sendiri.

"Hm, sepertinya saya harus kembali bekerja. Anda benar, saya harus bersikap layaknya pegawai yang sebenarnya."

Buru-buru Carissa berbalik lalu berjalan cepat menuju pintu. Fachmi tidak mencegah. Hanya memperhatikan punggung Carissa yang semakin menjauh. Sadar betul gadis itu tidak nyaman dengan pembicaraan mereka.

Fachmi tersenyum seraya meraih bolpoinnya kembali. Sudah hampir satu bulan berlalu sejak ia mengusulkan pernikahan untuk Carissa. Usulan asal yang ternyata mendapat persetujuan dari keluarga besar Fachmi dan Carissa. Dan setahu Fachmi, persiapan pesta pernikahan sudah hampir selesai. Tinggal menyebar undangan beberapa hari lagi. Tapi lucunya, sampai detik ini sang calon mempelai wanita belum tahu bahwa dirinya akan menikah.

Benar-benar pernikahan konyol dan tidak disengaja. Bahkan Fachmi sendiri masih tidak percaya bahwa dirinya sebentar lagi akan menikah.

***

Carissa mendesah lega begitu pekerjaannya selesai. Padahal dirinya hanya siswa magang, tapi ternyata kebagian lembur juga. Ada banyak kumpulan data yang harus dia rekap dan hasilnya diminta besok pagi. Jadi tidak ada waktu selain menyelesaikannya hari ini.

Selesai berkemas, Carissa berpamitan pada beberapa pegawai lain yang juga terpaksa lembur. Meskipun Carissa tergolong gadis yang suka berkelahi dan melakukan kegiatan yang memacu adrenalin, namun dia tahu caranya bersopan santun.

Dengan santai Carissa berjalan menuju lift. Tapi tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya, membuat Carissa refleks hendak melayangkan tinju dengan tangan yang lain. Tapi ternyata, orang di depannya juga bergerak sigap dan tepat waktu menggenggam pergelangan tangan Carissa yang sudah siap dengan tinjunya.

"Wow! Nyaris saja hidungku patah."

Suara maskulin yang familiar itu membuat Carissa terkesiap. Segera dia menarik tangannya lalu menyatukannya di depan dengan sikap memohon. "Maaf, tapi salah Anda juga yang muncul tiba-tiba."

Fachmi berdecak. "Kau minta maaf tapi juga meyalahkan."

"Memang Anda yang salah."

"Baiklah, aku yang salah." Mata Fachmi berkilat geli melihat bibir Carissa mengerucut kesal. "Kita gunakan lift khusus direksi saja. Aku akan mengantarmu pulang."

"Kenapa?" selama bekerja di sini, tidak pernah sekalipun Fachmi menawarkan tumpangan padanya. "Saya bawa motor."

"Sudah malam." Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fachmi kembali mencekal pergelangan tangan Carissa lalu menariknya menuju lift khusus direksi.

Meski masih merasa heran, Carissa menurut saja. Dia membuntuti Fachmi ke dalam lift lalu menunggu lift tersebut membawa mereka berdua ke lantai dasar.

"Kalau saya meninggalkan motor di sini, besok saya naik apa?" akhirnya Carissa kembali bersuara.

"Aku akan menjemputmu."

Mata Carissa melebar lalu dia menoleh ke arah Fachmi, menatap lelaki itu dari samping. "Rumah kita tidak searah. Anda pasti akan repot."

"Kenapa padaku kau takut merepotkan tapi pada Farrel kau senang sekali merepotkan?" tanpa bisa dicegah, nada suara Fachmi terdengar ketus.

"Itu-itu karena..." Karena kita memang tidak sedekat itu, dasar si tua mesum. "Eh, Anda tidak bersama kekasih Anda hari ini?"

Fachmi tersenyum miring menyadari Carissa mengalihkan pembicaraan. "Ternyata kau cukup memperhatikanku."

"Bukan begitu. Sudah rahasia umum bahwa Anda memiliki banyak kekasih yang selalu berganti tiap hari-ups!" Carissa menutup mulut dengan satu tangan menyadari kelancangannya. Saat itulah dia baru menyadari bahwa tangannya yang lain masih berada dalam genggaman Fachmi.

"Begitu, ya. Jadi saat tidak sedang bekerja, kalian menggosipkan bos kalian."

"Tidak setiap hari kok." Carissa meringis. Tampaknya mulut Carissa butuh saringan.

Fachmi terkekeh. Lalu yang tidak Carissa duga, dengan tangannya yang bebas lelaki itu mengacak lembut rambut Carissa.

DEG.

Jantung Carissa seolah berhenti. Tapi momen itu tidak berlangsung lama karena pintu lift terbuka dan Fachmi kembali menarik lembut tangan Carissa. Mereka menyusuri lobby kantor dalam hening, menuju parkiran khusus untuk para petinggi perusahaan.

Sampai di mobil, mendadak Carissa jadi salah tingkah melihat Fachmi membukakan pintu untuknya lalu menunggunya masuk. Baru setelahnya Fachmi masuk ke sisi pengemudi.

"Pakai sabuk pengamanmu!"

"Oh!" buru-buru Carissa memakai sabuk pengaman lalu duduk dengan gelisah. Kedua tangannya saling meremas di pangkuan.

Entah mengapa Carissa merasa sikap Fachmi berubah. Lelaki yang biasanya cenderung mengabaikan dirinya itu mendadak jadi sangat perhatian. Bahkan tanpa bisa dicegah, Carissa menurut saja atas ajakan dan perintahnya. Padahal biasanya Carissa adalah seorang pembangkang. Jangankan orang lain, orang tuanya saja sering tidak ia turuti nasihatnya.

"Mau makan dulu sebelum pulang?" Fachmi bertanya, memecah keheningan.

Buru-buru Carissa menggeleng. "Tidak, langsung pulang saja." Makan malam berdua? Rasanya seperti kencan.

Fachmi hanya mengangguk kecil. "Kau tahu alamat apartemenku?"

Kening Carissa berkerut tidak mengerti lalu ia menggeleng. "Tidak."

"Nanti kukirimkan alamat apartemenku," ujar Fachmi santai, tanpa melirik Carissa.

"Untuk apa?" Carissa terbelalak.

"Kalau kau butuh bertemu denganku, kau tahu di mana menemukanku."

Carissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terserahlah. Toh Carissa tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada Fachmi.

Setelah itu tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

***

"Terima kasih." Carissa berkata canggung setelah Fachmi membukakan pintu lalu ia turun.

"Kau tidak menawariku mampir?" tanya Fachmi dengan kilat geli di matanya, namun raut wajahnya tetap datar.

Carissa terbelalak. "Eh, itu-"

Lalu senyum itu lagi. Senyum yang entah mengapa seolah memporak-porandakan perasaan Carissa.

"Lupakan. Aku pulang dulu." Kemudian Fachmi kembali ke mobil, menyalakannya lalu melaju pergi. Meninggalkan Carissa yang masih membeku di tempat.

Ada apa dengan si tua mesum itu? Apa dia salah memakan sesuatu saat sarapan tadi pagi?

Menggeleng pelan, Carissa masuk ke rumah melalui pintu dekat pos jaga. Sejenak ia tersenyum pada satpam yang membukakan pintu.

Di dalam rumah, tampak Alan dan Destia sudah menunggu di ruang tengah.

"Sayang, kamu tidak terluka lagi, kan?" tanya Destia cemas seraya menghampiri putrinya lalu memperhatikannya dengan seksama.

Carissa berdecak. "Tadi kan Carissa sudah kirim pesan harus lembur malam ini."

Destia mendesah. "Mama hanya khawatir kamu mampir ke suatu tempat."

Sebelum Carissa sempat mengatakan sesuatu, Alan lebih dulu berkata, "Carissa, duduk sini. Papa ingin mengatakan sesuatu."

Carissa menahan dengusannya. Pasti lagi-lagi berhubungan dengan larangan ini dan larangan itu. Apa Papanya tidak pernah merasa lelah?

Dengan langkah lesu, Carissa duduk di kursi tunggal di hadapan kedua orang tuanya sementara ranselnya ia letakkan di pangkuan.

"Carissa, kamu tahu Papa dan Mama menyayangimu, kan?" Alan memulai.

Carissa hanya mengangguk.

"Rasanya kami akan terkena serangan jantung mendadak tiap kali melihatmu terluka."

Carissa mendesah pelan. Selalu saja tentang hal ini. apa salahnya kalau dia memiliki hobby? Mungkin hobbynya memang tidak biasa bagi seorang gadis. Tapi tetap saja, itu adalah apa yang Carissa sukai. Toh dia tidak merugikan orang lain atau membuat orang tuanya malu.

"Tapi kamu selalu menganggap larangan kami berlebihan," lanjut Alan. "Padahal Papa dan Mama hanya tidak ingin kehilanganmu seperti kehilangan Kakakmu." Mendadak suara Alan berubah serak. Sementara Destia yang duduk di sebelah Alan diam-diam menyusut air mata.

Jemari Carissa saling meremas. Orang tuanya selalu begitu. Menjadikan kematian sang Kakak sebagai pembenaran untuk mengurung dirinya dalam sangkar emas.

Tidak jauh beda dengan Carissa, Clara juga menyukai kegiatan yang memacu adrenalin. Gadis yang lebih tua delapan tahun dari Carissa itu terlempar ke dalam sungai dalam aksinya bermain arung jeram. Dia meninggal seketika, di usia yang baru menginjak delapan belas tahun karena kepalanya tepat menghantam bebatuan sungai.

Carissa mengerti ketakutan orang tuanya. Tapi rasanya berlebihan sampai melarangnya melakukan berbagai hal yang dia sukai.

"Karena itu kami sudah membuat keputusan demi masa depanmu."

Carissa yang semula hanya menunduk, perlahan mendongak mendengar nada final dalam suara Papanya. Mendadak perasaan takut merambati hati Carissa melihat sorot mata sang Papa yang begitu serius.

"Kamu akan menikah satu minggu lagi."

DEG.

Seperti ada bom yang meledak tepat di jantung Carissa, membuat pendengarannya menjadi pekak. Matanya melebar tidak percaya dan bibirnya terbuka, berpikir pasti dirinya salah dengar.

"Tadi-Papa bilang apa?"

Kali ini sorot mata Alan tidak lembut seperti biasa, saat ia kerap memberi Carissa banyak nasihat. Alan menatap tajam, serius, pertanda dia tidak mau dibantah. "Papa sudah menyiapkan pesta pernikahan untukmu."

"Papa bercanda, kan?" tanya Carissa dengan nada lemah.

"Sama sekali tidak."

Mendadak rasa panas menusuk mata Carissa. Dia ingin menangis keras. Dia merasa Papanya berusaha melemparnya ke sangkar lain karena sangkar emas milik sang Papa tidak berhasil mengurung Carissa. Memangnya dia tidak boleh memilih untuk masa depannya? Tega sekali sang Papa melakukan hal ini.

"Siapa?" Lalu Carissa bertanya dengan suara lebih keras. "Siapa lelaki yang Papa pilihkan untukku? Yang menurut Papa sanggup menahanku dalam kurungan."

Alan menghela napas berat. "Fachmi Aditama Effendi, putra Om Rafka."

DEG.

"Apa?" pertanyaan itu hanya berupa bisikan tidak percaya.

Fachmi?

Fachmi si tua mesum yang mendadak sok baik padanya?

Apa sang Papa sedang menghukumnya? Karena selama ini Carissa tidak pernah menurut perintah Papanya, jadi dia menghukum Carissa dengan cara seperti ini. Melempar dirinya ke mulut buaya yang siap mencabik-cabik tubuhnya sebelum makan dengan lahap.

Menikah di usia semuda ini sudah terdengar amat mengerikan di telinga Carissa. Ditambah lagi calon suaminya adalah Fachmi. Bahkan wanita dewasa dengan otak waras pastilah akan berpikir panjang dulu sebelum menerima pinangannya. Belum menikah saja seorang Fachmi bisa dengan tega mempermainkan perasaan banyak wanita. Apalagi setelah menikah. Mungkin terasa semakin menyenangkan baginya karena bisa selingkuh dari istri.

Mendadak Carissa berdiri seraya menghapus dengan kasar air mata di pipinya. "Kenapa harus melakukan ini jika Papa dan Mama ingin Carissa pergi? Bilang saja, dan dengan senang hati Carissa akan keluar dari rumah ini."

"Tidak, sayang. Bukan seperti itu." Destia berkata dengan suara serak.

Kembali Carissa menyusut air matanya. "Kalian tidak perlu repot mengeluarkan biaya untuk sebuah pernikahan. Carissa akan pergi, tanpa membawa apapun." Setelah berkata demikian, Carissa melangkah menuju pintu depan.

"Cara! Papa mohon sekali ini saja, turuti permintaan Papa. Setelah itu Papa tidak akan minta apapun lagi."

Langkah Carissa terhenti. Air matanya semakin deras mendengar panggilan sayang sang Papa saat dirinya masih kecil. Rasanya sudah lama sekali sejak saat itu. Masa-masa ketika dia masih suka bermanja dalam pelukan sang Papa. Masa-masa saat dia tidak sabar menunggu kue hangat buatan sang Mama diangkat dari oven. Masa-masa saat orang tuanya adalah pusat dunianya.

Lagi-lagi Carissa menghapus air matanya untuk menjernihkan penglihatan. Lalu dia berkata seraya berbalik, "Carissa sudah bukan anak ke-"

DEG.

Carissa ternganga dengan hatinya yang terasa pedih. Tidak pernah seumur hidup dia membayangkan sang Papa akan berlutut memohon padanya seperti itu. Ya, di depan sana Alan sedang berlutut dengan air mata yang ia biarkan mengalir di pipi. Sementara itu Destia hanya bisa menutup mulut sambil terisak di belakang Alan.

"Papa-"

"Kalau kamu ingin Papa bersujud di bawah kakimu, Papa akan melakukannya. Asalkan kabulkan permintaan terakhir Papa ini."

Alan sudah menekuk kakinya dan siap bersujud. Saat itulah Carissa tersadar dari keterkejutannya. Dia menggeleng seraya bergegas kembali ke hadapan sang Papa, turut bersimpuh lalu memeluk Papanya erat.

"Jangan lakukan itu, Pa. Carissa akan menuruti permintaan Papa." Carissa terisak seraya mengalungkan lengan di leher Papanya.

"Sungguh?"

Carissa mengangguk dengan wajah terbenam di lekukan leher sang Papa.

"Terima kasih, Sayang. Kau pasti akan bahagia bersama Fachmi."

Carissa meringis dalam hati. Namun kali ini dia tidak membantah. Biarlah sekarang dia mengalah.

Melihat putri dan suaminya saling memeluk, Destia turut berlutut lalu memeluk keduanya sekaligus. Sebenarnya dia merasa buruk saat ini. Bukankah dulu dia kabur dari rumah karena hendak dijodohkan oleh Papanya? Tapi sekarang Destia juga sama frustinya dengan Alan. Lagipula tujuan pernikahan ini bukan karena kepentingan dirinya dan Alan. Tidak seperti Papanya dulu yang menginginkan kekuasaan. Ini demi kebaikan Carissa. Itu sebabnya Destia yang awalnya sangat menentang, berubah setuju dengan rencana ini.

Yah, semoga apa yang ia dan suaminya lakukan ini benar-benar membawa kebaikan bagi putri mereka.

---------------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Bab 3

Carissa terisak seorang diri di kamarnya. Dia duduk di lantai, dengan kedua tangan bertumpu di sisi ranjang, sementara wajahnya ia benamkan di antara lengannya yang terlipat. Badannya tampak berguncang pelan, menandakan Carissa benar-benar tidak bisa menahan luapan kesedihan dalam hatinya.

Dia tidak bisa membayangkan seburuk apa kehidupannya kelak. Menikah di usia muda, dengan seorang lelaki yang suka bermain perempuan. Rasanya Carissa ingin bunuh diri saja. Tapi dia terlalu menyayangi orang tuanya untuk melakukan hal itu. Mereka sudah cukup terluka atas kematian Clara.

Sungguh, Carissa tidak pernah berniat membantah orang tuanya dan selalu membuat mereka khawatir. Dia hanya melakukan apa yang dia sukai. Namun beginilah akhirnya. Masa depan cerah yang Carissa bayangkan, harus berakhir dengan cara seperti ini.

Ting.

Suara pesan masuk terdengar dari ponsel yang tadi Carissa lempar ke tengah ranjang. Dia mengangkat kepala menatap ponselnya yang menyala, sedikit merasa lega atas interupsi itu. Sejenak Carissa menyeka air mata, lalu meraih ponsel.

Itu alamat apartemenku. Datang kapanpun kau ingin bertemu denganku.

Fachmi.

Carissa kehilangan kata-kata setelah membaca pesan itu. Sekarang dia mengerti mengapa sikap Fachmi mendadak aneh. Dia bahkan bertanya tentang hal-hal yang tidak biasa.

"Datang kapanpun kau ingin." Carissa tersenyum miris saat dia membaca dengan suara pelan kalimat itu.

Ah, apakah si tua mesum itu sudah tahu bahwa hari ini Papanya akan menjatuhkan bom di hadapan Carissa? Pasti iya. Biar Carissa tebak, secara tidak langsung Fachmi meminta dirinya datang ke apartemen lelaki itu saat ini. Mungkin dia akan menghibur Carissa dan melontarkan janji-janji palsu, lalu mencoba mencicipi tubuhnya lebih dulu sebelum pernikahan.

Bukan mustahil hal itu terjadi jika sekarang Carissa datang ke apartemen Fachmi. Apalagi mengingat betapa buruknya reputasi Fachmi selama ini. Sungguh menjijikkan. Tapi mendadak pemikiran itu memberi sebuah ide di kepala Carissa.

Carissa berdiri seraya menyelipkan ponsel di saku celana kainnya. Kemudian dia meraih jaket lalu bergegas keluar kamar. Sama sekali tak ia pedulikan bahwa dirinya belum mandi dan ganti pakaian.

Di luar kamar, langkah Carissa berhenti mendapati sang Mama. Sepertinya sang Mama sudah cukup lama berdiri di sana, tampak ragu hendak mengetuk pintu.

"Mau ke mana?" tanya Destia, berusaha menyamarkan nada khawatir. Dia menatap lekat wajah sang putri yang sangat mirip dengannya. Bahkan Carissa mewarisi wajah kekanakan Destia, namun tidak separah Destia. Dan Destia juga bersyukur Carissa tidak mewarisi tubuh mungilnya.

"Carissa ingin ke suatu tempat," jelas Carissa pelan.

"Boleh Mama tahu?"

"Carissa tidak berniat kabur dari rumah. Hanya ingin ke apartemen Fachmi dan meminta penjelasan darinya."

Diam-diam Destia menghembuskan napas lega. "Mau Mama antar?"

Akhirnya kesabaran Carissa habis. "Tidak bisakah saat ini Carissa mendapat kebebasan sebelum benar-benar berada dalam penjara?"

Dada Destia sakit mendengarnya. Dia sampai berpikir apa ini hukuman karena dulu dirinya kabur dari rumah saat Papanya berusaha menjodohkannya. "Maafkan Mama. Maaf." Destia tertunduk, berusaha menyembunyikan air mata.

Tanpa bisa dicegah, air mata Carissa juga bergulir. Dia ingin memeluk sang Mama namun tidak sanggup melakukan itu. Meski berusaha menerima pilihan orang tuanya, tapi tetap saja, ada kemarahan terpendam dalam hati Carissa.

"Tidak apa-apa. Pergilah."

Carissa menoleh dan mendapati sang Papa yang berjalan ke arah mereka. Tidak ingin terjebak lebih lama lagi dalam situasi penuh drama ini, dia segera pergi tanpa mengatakan apapun.

Carissa meluapkan amarah dengan memacu motor dalam kecepatan tinggi. Tentu saja itu bukan motor yang Carissa gunakan untuk ke kantor tadi pagi. Motor yang itu masih berada di kantor gara-gara si tua mesum Fachmi. Di saat seperti ini, terbersit dalam benak Carissa harapan agar dirinya mengalami kecelakaan atau tertangkap polisi karena melanggar aturan lalu lintas. Namun ternyata harapannya tidak terkabul.

Hanya selang lima belas menit kemudian, Carissa sudah tiba di gedung apartemen Fachmi. Dia langsung menuju bagian penerima tamu lalu menyampaikan keinginannya untuk bertemu Fachmi Aditama Effendi.

Tak butuh waktu lama, Carissa sudah dipersilakan naik ke lantai empat tempat apartemen Fachmi berada. Gadis itu melangkah cepat, tanpa membuang waktu menikmati kemewahan interior hunian kalangan atas itu. Dia marah, sangat. Rasanya dia ingin langsung mencakar wajah Fachmi begitu berhadapan dengan lelaki itu.

Tepat di depan pintu, Carissa menekan bel beberapa kali dengan tidak sabar. Di detik dirinya memutuskan hendak menendang pintu itu hingga jebol, mendadak pintu terbuka dan menampakkan Fachmi yang hanya mengenakan celana pendek dan tubuh tampak berkeringat.

Mata Carissa melebar. Bukan karena dihadapkan pada perut six pack dan otot yang membentuk tubuh Fachmi dengan indah. Melainkan karena pikiran negatif yang langsung menyerang otaknya. Mungkinkah Carissa datang di saat yang tidak tepat? Apa Fachmi sedang ada tamu wanita dan dia baru saja-ehm, melakukan itu dengan tamunya? Tapi Fachmi dan Carissa-mereka akan menikah minggu depan, kan?

Yah, bukannya Carissa mulai mengakui Fachmi sebagai calon suami. Tapi itu artinya, Carissa tidak perlu repot-repot melakukan rencananya. Kalau orang tua Carissa memang menyayangi dirinya, pasti mereka bersedia membatalkan pernikahan ini setelah mengetahui bahwa Fachmi masih sempat bercinta dengan wanita lain meski pernikahannya sudah di depan mata.

"Sungguh kunjungan yang tidak terduga. Aku tidak menyangka kau akan datang seka-"

Tanpa menunggu Fachmi menyelesaikan kalimatnya, Carissa menerobos masuk. Dengan langkah tergesa, dia menyusuri tiap ruang di apartemen asing itu tanpa memedulikan Fachmi yang membuntutinya dengan raut bingung.

"Sebenarnya apa yang kau cari?" tanya Fachmi saat Carissa sedang memeriksa kamar mandi dalam kamarnya.

Gadis itu menghembuskan napas keras lalu berbalik menghadap Fachmi. "Di mana kau sembunyikan wanita itu?"

Salah satu alis Fachmi terangkat. "Wanita apa?"

Carissa mendekat hingga jarak mereka kurang dari setengah meter. Sayangnya tinggi Carissa hanya mencapai leher Fachmi. Bukannya mengintimidasi, dia sendiri yang malah harus mendongak untuk membalas mata hitam itu.

"Tidak perlu berpura-pura. Aku tahu kau tadi pasti sedang-sedang..."

"Sedang apa?"

"Sedang bersama seorang wanita, kan?"

Mata Fachmi menyipit dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum geli. "Kau terdengar seperti kekasih yang cemburu."

"Apa?!" Carissa ternganga tidak percaya akan tuduhan itu. "Aku sama sekali tidak cemburu. Aku hanya berpikir untuk melaporkan hal ini pada orang tuaku agar mereka membatalkan rencana pernikahan konyol kita."

"Ah, jadi kau sudah tahu."

"Iya, dasar si tua mesum. Apa kau tidak malu hendak menikahi gadis yang masih berstatus sebagai pelajar?"

"Sama sekali tidak."

"Kau-" Carissa kehilangan kata-kata. "kau benar-benar lelaki tua mesum. Aku akan menemukan wanita itu dan membawanya ke hadapan orang tuaku."

Carissa meninggalkan Fachmi yang masih berdiri di tempat dengan senyum geli. Dia segera keluar kamar lalu memperhatikan sekitar, menimbang-nimbang ruangan mana yang hendak diperiksanya lebih dulu.

Perhatian Carissa mengarah pada sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Tanpa menunggu lagi dia bergegas ke sana. Namun yang Carissa temukan bukanlah seorang wanita, melainkan sebuah ruangan penuh peralatan fitnes.

"Tadi aku sedang di sini saat kau datang." Fachmi yang ternyata masih membuntuti Carissa, berkata seraya meraih handuk yang ia sampirkan di treadmill lalu menyeka keringat di wajah dan lengannya. "Aku terbiasa olahraga dulu agar bisa tidur nyenyak."

Carissa menggigit bibir menyadari kekeliruannya. Lalu pandangannya jatuh pada tubuh Fachmi yang sedari tadi berusaha ia abaikan. Carissa akui, Fachmi memang memiliki tubuh yang bisa membuat gadis polos berubah jadi wanita liar. Dadanya tampak lebar dan nyaman dijadikan tempat bersandar. Lengannya juga tampak kuat, seolah menjanjikan perlindungan.

Buru-buru Carissa memalingkan wajah sebelum mata dan otaknya tercemar. Dia menelan ludah sejenak seraya menguatkan diri lalu kembali menatap ke arah lelaki yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Kali ini pandangannya lurus pada mata hitam Fachmi.

"Sekarang aku mengerti mengapa kau mendadak jadi baik padaku."

Fachmi selesai mengelap tubuhnya lalu meraih kaus yang juga ia sampirkan di sebelah handuk. "Apa ini masih tentang wanita yang tadi kau maksud?" tanya lelaki itu tenang seraya mengenakan kaus.

"Tidak!" sergah Carissa dengan perasaan sedikit malu. "Ini tentang kau yang mendadak baik padaku tadi di kantor."

"Bukankah selama ini aku memang baik? Kapan aku pernah bersikap jahat padamu?"

"Tapi biasanya kau cenderung mengabaikanku."

Senyum Fachmi merekah. Senyum yang lagi-lagi menggetarkan perasaan Carissa. "Jadi, kau ingin kuperhatikan? Harusnya kau bilang dari dulu."

"Bukan seperti itu!" Carissa berseru, mulai frustasi.

"Lalu apa?" Fachmi sungguh terhibur melihat raut kesal Carissa. Tapi dia menyembunyikan hal itu dan hanya menampakkan raut datar.

"Sudahlah! Intinya aku tidak mau menikah denganmu!"

Fachmi hanya mengangkat bahu lalu berjalan keluar dari ruang fitnes. Melihat itu Carissa terbelalak. Buru-buru dia membuntuti Fachmi yang ternyata berjalan menuju dapur.

"Kenapa kau diam saja?"

Fachmi membuka kulkas lalu meraih susu segar dalam botol kaca. "Kenapa kau tidak mengatakan hal itu pada orang tuamu?" tanya Fachmi tenang seraya menuang susu ke dalam panci lalu menyalakan kompor.

"Aku sudah melakukannya."

"Lalu apa tanggapan mereka?"

"Mereka tetap ingin aku menikah." Kali ini suara Carissa berubah lemah.

Fachmi berbalik menghadap Carissa dengan pinggul bersandar di sisi meja. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Kalau begitu turuti saja kemauan mereka. Kau hanya perlu duduk diam di pelaminan dan semuanya selesai."

"Aku bukan boneka yang hanya bisa digerakkan orang lain," geram Carissa.

"Siapa yang bilang kau boneka? Aku juga tidak mau menikah denganmu jika kau hanya boneka." Dengan sikap tak peduli, Fachmi berbalik kembali lalu mematikan kompor. Kemudian dia mengambil gelas dan menuangkan susu hangat itu ke dalamnya. "Mau kutambah gula?"

Kemarahan Carissa kian tersulut menghadapi sikap tak acuh Fachmi. Rasanya dia ingin menuangkan susu ke kepala lelaki brengsek itu. "Aku datang ke sini bukan untuk bertamu!" seru Carissa.

Fachmi menahan senyum geli, masih tetap dalam posisi membelakangi Carissa. "Tenang saja. Aku tidak menganggapmu sebagai tamu. Toh setelah kita menikah, kau juga akan tinggal di sini," ujarnya seraya menambahkan sedikit gula ke dalam susu. Kemudian dia berbalik kembali, menyodorkan susu itu ke arah Carissa. "Minum dulu. Kau pasti haus."

Carissa menatap gelas di tangan Fachmi lalu mendongak menatap mata hitam lelaki itu dengan raut kesal. Kemudian dengan gerakan kasar, Carissa menerima gelas hingga susu di dalamnya terciprat mengenai tangan Fachmi, lalu meminumnya cepat seperti orang kehausan.

Lagi-lagi Fachmi harus menahan senyum, mempertahankan raut datarnya seraya membersihkan cipratan susu. Lalu dia berdiri tenang dengan kedua tangan berkacak pinggang, menunggu Carissa selesai minum.

"Kau sama sekali tidak tersedak." Fachmi melontarkan pujian sekaligus ejekan.

Carissa hanya melirik sinis seraya meletakkan gelas kosong ke meja. "Sebenarnya aku datang ke sini ingin mengajukan penawaran padamu."

Salah satu alis Fachmi terangkat. "Apa itu?"

Carissa berdehem sejenak. Dirinya mulai diterpa perasaan malu dan gugup. Tapi demi memperjuangkan masa depannya, tidak ada salahnya mencoba cara ini. "Aku menawarkan satu malam untukmu tapi kau harus membatalkan pernikahan kita." Pipi Carissa terasa panas setelah mengatakan hal itu.

"Satu malam?" tanya Fachmi memastikan.

Carissa mengangguk.

"Kau menawariku satu malam padahal aku bisa menikmati tubuhmu kapanpun aku mau setelah kita menikah?"

Pipi Carissa semakin memerah mendengar kalimat Fachmi yang menurutnya vulgar. "Aku tahu kau menerima pernikahan ini hanya karena ingin-ingin..." Carissa tidak sanggup melanjutkan namun dia menguatkan diri. "Kau hanya ingin tubuhku, kan?"

"Benar sekali." Fachmi sama sekali tidak menyangkal.

"Karena itu, untuk apa merepotkan diri dengan tinggal bersamaku jika kau bisa mendapatkan apa yang kau mau secara cuma-cuma? Kau pasti sudah dengar dari orang tuaku bahwa aku adalah gadis pembuat masalah. Aku pasti akan membuat kau kesulitan kelak. Jadi-" Carissa kehilangan kata-kata karena Fachmi hanya menatapnya tajam. Mendadak nyalinya ciut. Dan untuk pertama kalinya, Carissa menyadari bahwa apa yang dia lakukan saat ini merupakan tindakan konyol sekaligus menjatuhkan harga dirinya.

"Hmm, sepertinya cukup menarik."

"Kau setuju?" Carissa bertanya dengan nada tidak percaya.

Masih dengan kedua tangan di pinggang, Fachmi bergerak mendekati Carissa. Terang-terangan ia memperhatikan gadis itu dari kepala hingga kaki. "Kalau kau hanya memberiku satu malam, aku ingin kau benar-benar memuaskanku. Jangan bersikap layaknya gadis kikuk yang tidak berpengalaman."

"Maksudmu?"

Fachmi tersenyum. Bukan senyum manis. Itu adalah senyum yang terkesan jahat dan merendahkan. "Bersikap liarlah. Buka pakaianmu di depanku!"

DEG.

Carissa menelan ludah. Sekarang dia benar-benar takut. Tapi karena sudah terlanjur dan Fachmi juga menyambut baik tawarannya, maka Carissa memilih tetap pada tujuan.

"Kenapa diam?" tuntut Fachmi yang kini berdiri sangat dekat di depan Carissa.

"Di sini? Sekarang?" nada suaranya bergetar.

"Tentu saja."

Lagi-lagi Carissa menelan ludah seraya menunduk. Tangannya bergetar saat ia mulai menurunkan ritsleting jaket.

Melihat itu, Fachmi memilih mundur lalu kembali menyandarkan pinggul di sisi meja. Kini kedua tangannya terlipat di depan dada. Raut wajahnya tetap datar namun senyum kecil merendahkan itu masih bertahan di bibirnya.

Begitu jaket sudah lepas dari tubuh Carissa, jemari gadis itu beralih pada kancing kemeja putihnya, kemeja yang sama yang ia gunakan ke kantor sejak pagi tadi. Perlahan tapi pasti, satu per satu kancing mulai terbuka, menampakkan tanktop putih yang ia kenakan di balik kemeja. Lalu gerakan Carissa berhenti begitu kancing paling bawah sudah terbuka.

"Kenapa berhenti? Cepat lepaskan!" Fachmi makin mendesak.

Bersamaan dengan desakan itu, kemeja Carissa meluncur ke lantai, jatuh di atas jaketnya. Wajah gadis itu semakin menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca dan kedua tangannya saling meremas.

"Sudah selesai?"

Carissa tidak menjawab.

Mendadak Fachmi kembali mendekatinya lalu dengan gerakan tiba-tiba menarik tangan Carissa menuju kamarnya.

Ketakutan Carissa sudah mencapai puncak. Namun dia tidak mengatakan apapun atau mencoba melepaskan diri dari Fachmi. Dia sudah pasrah dan hanya meyakinkan diri bahwa masa depannya akan kembali cerah begitu malam ini berakhir.

Tiba di kamar utama, Fachmi masih terus menarik Carissa menuju kamar mandi. Di sana, barulah Fachmi berhenti lalu berdiri tenang di depan Carissa yang masih tertunduk. Kali ini senyum gelinya tersungging, menyadari gadis itu sudah nyaris menangis.

"Mandilah! Kau bau sekali."

Mendengar kata-kata Fachmi, Carissa mendongak tiba-tiba. "Apa?"

"Kau bau. Sangat. Untung aku bisa menahan napas dalam waktu lama." Tanpa menunggu tanggapan lagi, Fachmi langsung berbalik meninggalkan Carissa yang ternganga. Tak lupa ia menutup pintu kamar mandi setelah keluar.

"Bau?" Carissa mengangkat salah satu tangan lalu mengendus ketiaknya. Masih ada sedikit aroma deodoran. "Dasar si tua mesum! Aku tidak sebau itu!"

Tapi kemudian, senyum Carissa merekah. Senyum lega bahwa malam ini dia tidak harus menjadi jalang.

-----------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED