“Assalamualaikum ....”
“Wa–wa’laikum salam Kak,” jawab Layla tergagap kaget. Menggoyang-goyangkan tubuh Alana yang tertidur di atas sajadah di sebelahnya. Perempuan itu kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.
Mereka baru lunas menunaikan salat asar, benar-benar baru selesai. Masih di masjid, masih di sisi masjid bagian jamaah perempuan, bahkan belum lepas mukena putih yang mereka kenakan untuk salat.
Sementara goyangan tangan Layla seketika membangunkan Alana. Gelagapan membenahi mukena sekenanya, duduk dengan cepat, menatap perempuan yang berdiri merunduk di depan mereka berdua.
Perempuan yang perawakannya jauh lebih cantik dari mereka. Senyum yang manis lengkap dengan lesung pipi. Kulit kuning langsat dengan mata sipit.
Jika bukan bertemu di masjid mereka pasti Alana akan mengira bahwa perempuan ini bukan pemeluk agama Islam. Pasti juga akan mengira bahwa perempuan di depannya ini keturunan Chinesse saking putih dan cantik parasnya.
“Gu–gue boleh duduk di sini kan?” ucap perempuan itu.
“Oh silakan, Kak. Silakan,” jawab Layla ramah. Menggeser tubuhnya hingga kini mereka bertiga tampak seperti melingkar.
Alana yang sudah kembali seratus persen kesadarannya menatap lamat-lamat perempuan itu. “Kaka habis salat asar juga? Saya kok tidak lihat di deretan jamaah tadi?” tanya Alana.
Perempuan itu mengangguk, tersenyum. “Iya gue tadi ketinggalan jamaah karena urusan dokumen di kampus nggak selesai-selesai.”
Layla dan Alana seketika memutar wajah, saling berhadapan, hingga mata mereka bertemu.
“Jadi kaka ini mahasiswa baru?” tanya Layla.
Perempuan itu mengangguk. “Kenapa memangnya?”
“Astaga, saya kira mahasiswa lama di sini Kak,” jawab Layla sambil menepuk jidatnya.
“Iya sama. Aku kira kakak tuh mahasiswa lama di sini. Eh kok ya ternyata kita ki satu angkatan toh,” sambung Alana dengan logat Rambugunungnya yang masih kental.
“Iya gue baru kok di kampus UP. Kalian sama kan? Jurusan apa kalian?” tanya perempuan itu antusias. “Eh, jangan panggil kak dong. Kenalin, nama gue Zeline. Fakultas ilmu ekonomi,” lanjutnya sambil mengajukan tangannya.
Mendengar kata terakhir Alana langsung menyambar tangan Zeline. Menjabatnya erat sambil menggoyang-goyangkannya. Bahkan mungkin sekarang sedang ada pesta kembang api yang sangat meriah di dalam hatinya.
Tampak cerah sekali wajahnya. Senang bukan main setelah akhirnya menemukan teman yang fakultasnya sama dengan dirinya. Bahkan mungkin satu kelas juga bisa jadi.
“Saya Alana, Kak. Eh, Zeline maksudnya. Namaku Alana, Zel. Salam kenal, kita fakultasnya sama loh,” jawabnya dengan penuh rasa gembira. Menatap Layla yang hanya sanggup tersenyum kecut di sebelahnya.
Ya mau bagaimana pun ia pasti merasa iri pada sahabatnya itu. Ingin juga rasanya menemukan teman yang sama satu fakultas dengan dirinya.
“Argggh .... kenapa hidup selalu tidak adil pada orang yang lebih miskin,” dengusnya di dalam hati.
“Oh iya kah? Wah kebetulan sekali kita bertemu sekarang ya,” jawab Zeline sambil meregangkan jabat tangannya. “Lalu kalau kakak? Siapa namanya?” Berpindah menyodorkan telapak tangannya ke arah Layla.
“Layla, namaku Layla, Zeline. Salam kenal ya. Saya dari fakultas sastra Inggris,” jawab Layla datar. Menyambut jabat tangan Zeline dengan tak bersemangat meski tetap memasang senyum terpaksanya.
“Salam kenal juga Layla. Kalian ini dari luar kota ya? Kok rasanya baru sekali lihat kalian salat di masjid ini,” tanya Zeline lagi sambil melepaskan jabat tangannya. “Lagian logatnya juga beda. Kelihatan beda banget sama gue.”
“Cih ...!! Sombong banget baru kenal juga,” batun Layla lagi. Seketika entah kenapa ia jadi semakin tidak suka dengan gadis satu ini. Jujur saja, perempuan di depannya bernama Zeline ini mulai terkesan tidak mengenakkan bagi Layla.
Namun sebagaimana seorang pendatang, Layla tetap saja mengangguk. Mengikuti anggukan Alana yang duduk di sebelahnya. Bedanya, Alana tersenyum dengan penuh antusias. Sementara Layla tersenyum malas.
“Iya benar, Zel. Kebetulan banget hari ini baru sampai di Kota Gani. Kalau kamu?” tanya Alana balik.
“Oh gue asli dari kota ini sih. Em ... tapi,” Kalimatnya terpotong, menekuk wajah terlihat gundah.
“Tapi apa Zel?” potong Alana cepat, penasaran.
Perempuan itu tampak bersimpatik dengan wanita yang kini sekaligus akan jadi teman satu fakultasnya itu.
Perempuan yang tampilannya sangat jauh dari mereka berdua. Rambut yang diwarna pirang di ujungnya. Wajah dan tubuh yang tampak sekali terawat dengan baik.
Bahkan hingga sekilas mata mereka tak dapat menemukan bekas luka bahkan satu pun jerawat di wajah dan tubuh Zeline. Belum lagi pakaian bermerek mahal dengan bahan terbaik. Hanya melihatnya saja dua wanita itu bisa merasakan kelembutan bahannya.
Sudah tentu jauh berbeda dengan Alana, apalagi Layla. Mereka dari desa, bagi mereka berdua penampilan sama sekali tidak penting. Apalagi soal pakaian mahal dengan brand ternama.
Ah, mereka berdua mana tahu soal itu.
Mereka berdua lebih paham dan hafal nama-nama makanan tradisional di daerah mereka daripada brand pakaian ternama. Seperti geplak, lemper, golang-galing, onde-onde, tape ketan dan teman-temannya. Tanya saja ke mereka soal makanan. Mereka punya wawasan yang sangat luas.
“Ya begitulah,” jawab Zeline sambil memaksakan bibirnya tersenyum. Seperti menelan pil pahit rasanya. “Masalah antara remaja dan orang tuanya. Itu kenapa sepertinya aku harus cari kosan untuk sementara waktu,” lanjutnya sambil menelan ludah.
Layla bisa menangkap dengan jelas tenggorokan perempuan itu bergerak. Perasaan nelangsa seakan ikut merayap di hatinya. Ikut merasa kasihan.
Tapi tetap saja ia tak suka Zeline. Perempuan sombong itu, oh ayolah. Jangan bilang Alana tak menyadari itu. Perempuan ini terlihat aneh. Sok kenal dengan mereka berdua. Mungkin ada maksud lain yang disembunyikannya.
Apa pun itu mulai sekarang Layla harus lebih hati-hati. Ini bukan di Rambugunung. Desa itu ada di puluhan bahkan ratusan kilometer jauhnya dari sini. Tidak ada orang yang akan membantu jika mereka kenapa-kenapa di Kota Gani. Tidak akan ada orang yang mau menolong mereka berdua.
Kenangan Layla melayang, jatuh di siang itu saat ia tergopoh masuk rumah. Berteriak memanggil bapak dan mamaknya. Memberi tahu mereka bahwa ia diterima kuliah.
Satu hal yang Layla ingat betul dan tahu posisinya sekarang.
Terjebak di satu mimpi dan dua orang hebat terkasihnya yang menyerah. Bagian terberat dari perjuangan. Meletakkan dua tumbal sekaligus untuk satu mimpi. Formula yang belum tentu berhasil untuk hidup yang dinamis.
“Wah kebetulan sekali bukan, Lay?” pekik Alana tiba-tiba. Membuat lamunan perempuan di sebelahnya buyar. Mengembalikan kenangannya berpendar cepat kembali jatuh di kenyataan.
“Hah? Gimana? Gimana, Al?” jawabnya gelagapan bingung. “Keb–kebetulan apa weh?”
Alana mengerutkan kening. Sementara Zeline terkekeh melihat tingkah Layla yang mirip seperti mesin motor baru dinyalakan.
“Itu! Kos an, rumah, atau apa lah, kita lagi nyari kan? Kebetulan banget Zeline juga sedang nyari,” jawab Alana sebal. Kenapa penyakit sahabatnya satu ini mesti kumat di waktu yang tidak tepat.
“I–iya Zel, kebetulan banget. Hehehe .... sorry galpok. Gagal pokus tadi,” ujar Layla menutupi salah tingkahnya.
“Fokus, Lay. Fokus, bukan Pokus. Ah, kamu ye bisa aja ngelawak. Eh gimana kalau kita nyari bareng aja bertiga. Syukur-syukur kan kalau bisa dapet satu rumah untuk bertiga,” jelas Alana. Menelisik mata dua perempuan di sebelahnya bergantian. “Ya nggak, ya nggak?”
“Nah Boleh banget! Ide bagus tuh,” sambar Zeline. “Tapi sebenarnya gue ada satu rumah incaran sih. Buset incaran, udah kayak mau maling aja nih gue,” jawab Zeline diiringi tawa dari dua orang di kiri kanannya.
“Eh tapi gue juga belum ke sana langsung buat lihat sih. Ceritanya sih ini rumah bude gue, ya kakak dari nyokap gitu deh. Tapi udah nggak ditempati. Eh, tapi nggak lama kok. Baru tiga harian yang lalu mereka pindah ke luar kota. Jangan bayangkan rumah tua penuh hantu ya. Kalau itu mah Zeline juga nggak mau nempatin! Amit-amit,” lanjutnya sambil tertawa lagi.
Mendengar kalimat terakhir Zeline dua orang di sebelahnya ikut tertawa lagi. Siapa juga yang mau tidur dengan para makhluk halus. Ada-ada saja Zeline.
“Eh tapi mahal nggak Zel sewanya?” tanya Alana terus terang. Alana tidak mau kalau rasa senangnya kena PHP karena harga sewa yang mahal. Mana sudah beranjak semakin sore lagi. Tidak banyak waktu yang mereka punya.
“Em ... kalau itu sih gue belum tahu ya. Nanti deh biar gue yang tanyain langsung ke Bude. Itu soalnya kan rencananya hari ini gue cuma mau lihat lokasinya. Nah karena kebetulan hari ini kita ketemu, ya mau gimana lagi? Mungkin kalau cocok kita bisa langsung bersih-bersih terus kita tempatin bertiga deh. Gimana-gimana? Lay? Jangan diam doang dong,” protes Zeline.
“Iya kan kamu lagi ngomong, Zel. Masa’ iya aku potong. Hehehe .....” Jawaban polos yang sebenarnya lebih menunjukkan bahwa mungkin pikiran buruk di kepala Layla ini memang ada benarnya.
“Gini Zel, aku cuma lagi mikir lokasinya itu. Jauh atau enggak sama kampus. Ya, secara kan kita berdua, aku dan Alana tidak punya kendaraan transportasi jarak dekat seperti kamu. Kamu ada motor, kalian bisa berangkat bareng. Sementara aku?” lanjut Layla.
Ayolah, semua orang juga tahu kalau itu bentuk penolakan halus. Bentuk protes verbal yang dikemas dengan alasan yang logis. Sudahlah, Layla intinya tidak suka dengan Zeline sesering apa pun ia tersenyum pada perempuan itu.
Tadi sih katanya karena perempuan itu sombong tapi sekarang karena firasatnya. Dasar memang tidak bisa ditebak.
Terlepas dari firasatnya sekarang. Terlepas dari caranya melihat Zeline, satu rumah untuk tiga orang seperti kata Alana adalah ide paling bagus. Setidaknya sampai saat ini.
Setidaknya sampai ia sapat incaran tinggal lain agar bisa menjauh pelan-pelan dari Zeline.
Bersambung ....
Namun jawaban dari Layla barusan cukup untuk membuat dua orang perempuan di dekatnya seketika terdiam tak bergeming. Mereka yang sebelumnya tertawa-tawa seketika ikut prihatin. Apalagi Alana yang tahu betul keadaan keluarga Layla. Perempuan dari keluarga tidak mampu yang sekarang sedang berjuang merubah nasibnya.
Jangankan motor, satu sepeda tua pun masih dipakai bergantian.
“Oh soal itu. Lihat gue deh!” ucap Zeline dengan penuh percaya diri. Tiba-tiba mengambil kunci motor dari saku celananya. Membuka resleting tas kecil yang menggantung di bahunya. Melemparkan kunci dengan boneka Pororo kecil menggantung itu ke dalam tasnya kemudian mengancingkan kembali resleting tasnya.
“Jadi gimana? Mau jalan kapan? Biar adil nih ya kita bertiga jalan bareng. Biar semua tahu kalau tempatnya tuh deket pake banget dari sini. Ya .... kampus di depan sana kan sekitar sepuluh menit. Trus kita ke timur. Ke belakang masjid ini kurang lebih dua lima belas meter jalan kaki mungkin. Jadi gimana? Sepuluh menit ditambah jalan kaki kurang lebih lima belas meter,” tawar Zeline.
Seketika wajah Layla yang tadinya cemas dikungkung perasaan takut sekaligus iri berubah jadi cerah. Menatap Alana yang duduk di sebelahnya. Menyenggol lengannya dengan ujung siku kemudian sama-sama mengangguk.
Siapa juga yang akan menolak penawaran bagus seperti itu. Kapan lagi kuliah dengan biaya transportasi nol rupiah kan?
“Aku setuju sih,” jawab Alana mengangguk. “Kita berangkat sekarang deh. Mumpung masih sore kan. Kalau pun harus bersih-bersih rumah kita masih ada waktu.”
“Mantap,” sahut Zeline sambil mengacungkan jempol. “Lo sendiri Lay? Masih bingung?”
Layla menggeleng tegas sambil tersenyum. “Alana bener sih. Yok lah berangkat sekarang,” jawabnya sambil melucuti mukenanya. Melipatnya kembali dengan rapi memasukkannya ke dalam tas. Hal yang sama dilakukan juga dengan Alana.
Sementara Zeline masih mengacungkan dua jempolnya sambil meringis memamerkan dua gigi kelinci dan lesing pipinya. Betapa bahagianya perempuan itu kini mendapatkan dua sahabat baru.
Sebab tanpa Alana dan Layla tahu, Zeline tak punya satu pun teman di hidupnya. Sebab tanpa Alana dan Layla tahu, Zeline menyimpan satu rahasia besar tentang hidupnya.
“Eh kalian bawa barang banyak ya?” tanya Zeline lagi setelah dua perempuan itu selesai dengan mukenanya.
“Eng–enggak sih, Zel. Cuma ini, satu koper besar milikku sama dua ransel milik Layla. Kenapa emangnya?” tanya Alana balik.
“Em, gini deh biar kalian nggak kerepotan bawa tiga tas sekaligus. Koper Alana tinggal di atas motor gue aja. Nanti biar gue yang bawa pulang sekalian ambil motor. Kalian bawa dua tas punya Layla aja,” usul Zeline. “Tapi pastiin dulu kopernya nggak ada barang berharganya.”
Membuat dua sahabat itu kembali bertatapan, saling kebingungan, saling minta pendapat.
“Emang nggak hilang nanti Zel? Ya walaupun cuma baju kan itu juga berharga namanya,” protes Layla yang kemudian disusul anggukan Alana mendukung pertanyaannya.
“Udah percaya aja deh sama gue. Nggak bakal ilang, gue janji. Orang gue malahan ninggalin motor tuh,” jawab Zeline meyakinkan. Sambil menyusul mereka berdua berdiri. “Bawa dompet handphone sama barang penting aja udah yakin deh sama gue.”
Akhirnya, mau tidak mau mereka mematuhi Zeline.
Lagi pula kalau dipikir-pikir juga akan merepotkan kalau harus menarik koper besar Alana sambil berjalan melewati trotoar. Terlalu merepotkan juga kalau Layla harus membawa dua tasnya sekaligus. Mending mengalah salah satu. Dan harus mereka akui, usul Zeline adalah keputusan terbaik meski berisiko tinggi juga.
Dipikir-pikir tak ada salahnya juga menuruti usul perempuan itu meski ini juga baru pertama mereka bertemu.
Ketiganya kemudian memutuskan memulai langkah pertama perjalanannya. Berjalan menembus pelataran masjid yang tak terlalu luas. Hanya cukup untuk dua baris motor. Pelataran yang sekaligus jadi kawasan parkir.
Kawasan parkir yang sekaligus wahana bermain anak kecil warga sekitar sini.
Langkah ketiganya seperti serampak. Bercakap, bergurau, seperti anak remaja yang beranjak dewasa pada umumnya. Berjalan meniti trotoar tepian jalan raya. Melewati beberapa rumah.
Mereka bertiga layaknya tiga angels di dalam box office movie hollywood yang terkenal itu. Tinggi yang tidak terlalu beda. Ketiganya sama-sama cantik.
Dua wajah oriental dan satu berwajah perpaduan Chinesse. Perbedaan yang mencolok dari ketiganya terlihat di perawakan mereka. Tentu saja selain pakaian yang mereka kenakan.
Layla tak mungkin bisa mengimbangi apa yang Alana kenakan, apalagi yang Zeline pakai. Kemeja yang ia pakai itu saja sudah yang terbaik yang ia punya. Tidak ada yang lebih baik dari itu.
Namun, perawakan Layla lebih bongsor di antara mereka bertiga. Tubuhnya lebih berisi. Lebih padat tidak seramping Alana dan Zeline. Setiap hari mengayuh sepeda tua peninggalan kakeknya. Setiap hari harus berkubang dengan terik matahari membantu bapak dan mamaknya di petak sawah.
Jelas berbeda dengan Alana yang notabene putri semata wayang perangkat desa. Hidup dimanja, bergelimang harta, dan sangat dimanjakan oleh bapaknya. Jangan kan pergi ke sawah, menyapu lantai rumah saja gadis itu tak pernah. Bapaknya punya satu pembantu dan satu tukang kebun di rumah.
Apalagi Zeline, anak kota itu mana pernah melihat sawah di kota ini. Hanya dengan sekilas melihatnya saja semua orang juga tahu kalau gadis itu punya hidup yang glamor. Bahkan sampai satu jerawat pun enggan menempel di wajahnya.
Dari tiga perempuan itu sudah jelas Zeline yang paling cantik. Tapi Layla punya tubuh yang jauh di atas mereka berdua. Buktinya mata laki-laki keranjang yang kebetulan melihat mereka bertiga berjalan menyorot ke arah Layla. Menatap perempuan bertubuh menggoda itu dengan sorot mata yang seakan tak mau lepas.
Meski tertutup, meski jadi satu-satunya wanita yang mengenakan jilbab dan pakaian serba panjang di antara ketiganya.
“Tuh rumah di sebelah, yang pagarnya warna hitam,” tunjuk Zeline setelah dekat dengan tujuan.
Alana buru-buru membuka jam tangannya. Tidak sampai sepuluh menit, hanya sembilan setengah menit lebih sedikit. Bahkan jaraknya dari masjid lebih dekat daripada dari masjid ke kampus. Jika tak ada yang ganjil. Rumah ini adalah pilihan terbaik yang mereka punya. Rumah paling cocok untuk mereka bertiga tempati.
Pagar rumah yang tadinya tidak terlalu tampak kini tergambar sangat jelas. Hanya beberapa langkah lagi untuk sampai. Hingga kemudian Zeline tiba-tiba memekik saat melihat ada mobil yang terparkir.
“Bude?” ucapnya sambil berlari ke arah seorang wanita yang tengah menyapu teras rumah itu.
Sementara perempuan yang dipanggilkan itu seketika kaget. Mengerutkan kening, menyipitkan mata. Tak menyangka dengan seseorang yang dilihat dengan dua mata kepalanya.
Alana yang seakan ingin ikut berlari mengejar Zeline tiba-tiba tertahan. Tangan Layla dengan lembut menarik lengannya. Memutar bola matanya, membuat seketika Alana mengurungkan niatnya untuj menyusul Zeline yang sudah jauh. Sudah lebih dulu masuk pagar berlari ke arah perempuan yang dipanggilnya bude itu.
“Ak–aku punya firasat nggak baik deh,” bisik Layla di daun telinga Alana yang ada di sebelahnya.
Kalimat yang seketika membuat Alana mengerutkan kening. Heran, tak mengerti apa yang dimaksud temannya dari kampung satu ini.
“Soal apa?” bisik Alana balik. Tak berani berbicara lebih keras. Tak ingin dua perempuan yang tengah berpelukan itu mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. “Soal Zeline? Soal budenya? Atau–atau rumah ini?”
Mata Alana tak bisa untuk lepas dari mengamati semua penjuru rumah di depannya ini. Rumah yang tertutup gerbang setinggi hidungnya. Halaman rumah yang masih beralas tanah, tempat mobil sedan keluaran lama parkir. Tempat dipayungi pohon mangga besar yang baru berbunga. Sementara teras rumah yang tak terlalu luas diisi satu meja dengan empat kursi yang ditata melingkar.
“Iya semuanya, Al. Nggak Zeline, nggak budenya, nggak rumah ini,” jawab Layla. “Sumpah? Masa’ kamu nggak ngerasa aneh sama sekali?”
“Iya aneh sih,” balas Alana. Mengusap dua lengan dengan dua telapak tangannya. “Hehehe ... rada angker ya rumahnya, serem.”
“Alana ...!! Ih bukan itu,” pekik Layla sebal. Menepuk jidatnya sendiri. “Soal rumah, rumah ini lebih bagus dari rumahku sendiri. Tapi aku pengen kamu buka mata deh. Ada yang aneh loh sama Zeline.”
Begitu kata terakhir itu keluar dari mulut Layla perempuan yang tengah berbincang dengan budenya itu sesaat menoleh. Sebelum akhirnya membuang muka lagi. Menyorot mata perempuan tua di depannya lagi.
“Ssstttt ...!!! Jangan kenceng-kenceng ntar dia denger. Udah mau magrib tau! Kita nggak bisa cari rumah lain kecuali besok pagi,” sergah Alana sambil mengatupkan jari telunjuk di bibirnya.
Sementara Layla hanya bisa menelan ludah. Membayangkan berbagai hal buruk yang akan menimpa mereka berdua. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Meski pada alasan itu belum cukup menjawab semua kebingungannya.
Sementara di tengah percakapan dua orang perempuan tunggal darah di depan sana.
“Siapa mereka?” tanya Bude Mey. Matanya menyorot tajam ke mata Zeline. Menatap perempuan itu dari atas sampai bawah sambil menahan rasa kesal di dalam hatinya.
“Me–mereka?” balas Zeline, sambil memutar pandangannya ke arah dua orang yang tengah berdiri menunggunya di tepi trotoar.
“Mereka emm ... cuma calon temen kampus Zeline, Bude. Mereka baru datang dari kampung hari ini. Zeline ketemu mereka di masjid tadi,” terang Zeline sebisanya dengan suara yang bergetar takut.
Bude Mey ini satu-satunya orang yang paling ia takuti. Satu-satunya orang yang tahu rahasia besar di dalam hidup Zeline. Sekaligus satu-satunya orang juga yang mau menolong perempuan itu setelah semua keluarga mencampakkannya termasuk bunda dan ayahnya sendiri.
“Lo jangan macem-macem ya sama Bude. Jangan coba-coba bohong sama Bude. Gua bisa hancurin lo orang hanya dengan sekali langkah saja,” balas perempuan itu sambil mendengus kesal. Menyilangkan tangan di dada, menatap perempuan di depan itu. Perempuan yang kini merunduk, mematung, tak berani mengangkat wajahnya.
“Sekarang lo jujur sama Bude, siapa mereka? Mau lo apain mereka berdua? Ohhh ... jadi ini kenapa lo mau banget pinjam rumah Bude? Iya? Ini sebabnya?” ketus perempuan itu lagi. Kali ini dengan muka garang yang tampak sangat kesal dengan Zeline.
Sementara yang bisa dilakukan Zeline hanya bisa menggeleng. “Ak–aku udah bilang Bude. Zeline udah jujur.”
Hanya dua kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya. Itu pun dengan nada bicara yang terbata-bata. Menahan air mata yang pelan tapi pasti mulai merembes dari bola matanya.
“Dengerin! Lo itu kurang enak apa sih? Apa yang belum Bude kasih buat Lo? Lo minta Bude kasih pinjam rumah, silakan. Lo minta Bude kasih pinjam motor, silakan. Lo minta Bude kasih maaf buat kelakuan lo yang kayak binatang itu juga Bude kasih.” Kalimat perempuan itu terpotong.
“Sekarang lo bawa temen kemari. Emang gue nggak bisa mikir bakal lo apain dua perempuan itu, hah? Lo pikir Budemu ini bego? Jawab!” Perempuan yang jauh lebih tua dari Zeline ini kini berkacak pinggang. Menghujani perempuan di depannya dengan berbagai pertanyaan.
“Tolong terima mereka,” jawab Zeline datar. Suaranya dingin seperti tiba-tiba mengintimidasi perempuan di depannya. Seperti tiba-tiba membalikkan posisinya. Balik menyudutkan Bude Mey yang sedari tadi menghakiminya. “Tolong terima mereka. Berapa pun bakal gue bayar asal gue punya teman. Denger?”
Zeline yang sudah tidak tahan akhirnya mengangkat wajahnya. Menatap perempuan gendut di depannya dengan tatapan tajam. Tatapan singa yang baru lepas dari panggung sirkusnya. Tatapan buaya yang kelaparan. Tatapan yang membuat perempuan di depannya itu menelan ludah.
Zeline, kau ini sebenarnya binatang macam apa?
Bersambung ....